Bacaan Injil: Markus 1:29-39
Pernahkah Anda merasa bahwa semakin sukses Anda melakukan sesuatu, semakin banyak orang menuntut waktu Anda? Semakin Anda "bisa", semakin Anda "diminta"?
Dunia modern mengagungkan kesibukan. Kita sering mengukur nilai diri dari seberapa penuh jadwal harian kita. Namun, jika kita melihat catatan Markus 1:29-39, kita menemukan ritme hidup yang sangat kontradiktif dengan budaya hustle masa kini—sebuah ritme yang dijalankan oleh Yesus sendiri.
Malam yang Penuh Adrenalin
Kisah ini dimulai dengan "demam panggung" dalam arti harfiah dan kiasan. Di rumah Simon dan Andreas, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon. Begitu sembuh, sang ibu langsung melayani mereka—sebuah pengingat cantik bahwa tujuan dari pemulihan adalah pelayanan.
Namun, puncaknya terjadi saat matahari terbenam. Alkitab mencatat, "Seluruh penduduk kota itu berkerumun di depan pintu." Bayangkan tekanannya. Orang sakit, orang yang kerasukan, orang yang putus asa, semuanya ada di sana. Yesus bekerja keras; Ia menyembuhkan banyak orang dan mengusir banyak setan. Popularitas-Nya meledak. Secara logika manusia, ini adalah momen "emas". Ini adalah saatnya membangun markas, merekrut staf, dan menikmati kesuksesan.
Kejutan di Pagi Buta
Di sinilah letak kejutan terbesar dalam teks ini.
"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Mrk 1:35)
Ketika semua orang mencari-Nya, ketika "karier"-Nya sedang di puncak, Yesus justru menyingkir. Mengapa?
Simon dan kawan-kawannya akhirnya menemukan Yesus dan berkata dengan nada yang mungkin sedikit panik, "Semua orang mencari Engkau." Ini adalah godaan halus. Godaan untuk menjadi apa yang diinginkan orang lain, bukan apa yang diinginkan Bapa. Godaan untuk melayani "kebutuhan" orang banyak sampai habis terbakar (burnout).
Namun, karena Yesus telah mengambil waktu dalam keheningan bersama Bapa, Ia memiliki kejernihan hati untuk berkata: Tidak.
Ia menjawab, "Marilah kita pergi ke tempat lain... supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
3 Pelajaran dari Ritme Hidup Yesus
Dari perikop ini, kita bisa menarik tiga prinsip krusial bagi kehidupan kita yang serba cepat:
Jeda adalah Bahan Bakar, Bukan Pemborosan Yesus tidak berdoa karena Dia punya waktu luang. Dia menciptakan waktu itu. Dia bangun pagi-pagi benar. Tanpa koneksi dengan Sumber Kekuatan (Bapa), pelayanan dan pekerjaan hanya akan menjadi aktivitas yang menguras energi hingga kering. Keheningan adalah tempat kita mengisi ulang jiwa.
Berani Mengatakan "Tidak" pada Hal Baik Menyembuhkan orang di kota itu adalah hal baik. Tapi itu bukan satu-satunya misi Yesus saat itu. Karena Yesus berdoa, Dia tahu prioritas-Nya (memberitakan Injil ke kota lain). Tanpa doa dan refleksi, kita akan mudah disetir oleh tuntutan orang lain. Kita perlu belajar mengecewakan ekspektasi orang lain demi memenuhi tujuan Tuhan.
Sukses Bukanlah Tujuan Akhir Yesus tidak terbuai oleh popularitas. Saat "seluruh kota" mencari-Nya, Dia justru mengajak murid-Nya pergi. Dia mengajarkan kita untuk tidak membangun tenda di atas kesuksesan masa lalu, melainkan terus bergerak mengikuti pimpinan Tuhan.
Penutup
Hari ini, jika jadwal Anda terasa sesak dan tuntutan orang-orang di sekitar Anda terasa membebankan, cobalah berhenti sejenak.
Seperti Yesus, mungkin Anda perlu "bangun pagi-pagi benar" atau mencari sudut sunyi di sela jam makan siang. Bukan untuk lari dari tanggung jawab, tetapi untuk menyelaraskan kembali hati dengan Tuhan, agar Anda tidak hanya sibuk, tetapi juga berbuah. (EKZ)
