Mencari Tuhan di Tengah Kecemasan dan Overthinking: Sebuah Undangan untuk Berserah

Pernahkah Anda terbangun di jam 3 pagi, menatap langit-langit kamar, sementara pikiran Anda berlarian ke sana kemari? Mungkin tentang pekerjaan yang menumpuk, masa depan anak-anak, kesehatan orang tua, atau kesalahan kecil yang Anda buat minggu lalu.

Di zaman modern ini, kita sering menyebutnya sebagai overthinking. Dalam tradisi spiritual, ini sering berkaitan dengan kecemasan batin.

Sebagai umat Katolik, kita tidak kebal terhadap perasaan ini. Memiliki iman bukan berarti kita tidak akan pernah merasa cemas. Namun, iman memberi kita "tempat" untuk meletakkan kecemasan itu. Mari kita telusuri bagaimana kita bisa menemukan wajah Tuhan di tengah badai pikiran kita sendiri.


Bukan Tanda Kurang Iman, Melainkan Panggilan untuk Mendekat

Seringkali, ada rasa bersalah yang menyertai kecemasan. "Saya cemas, apakah ini berarti iman saya lemah?"

Jawabannya adalah: Tidak.

Bahkan Yesus pun mengalami kegentaran yang luar biasa di Taman Getsemani. Dia berkeringat darah karena tekanan batin yang hebat (Lukas 22:44). Yesus mengerti bagaimana rasanya ketika hati terhimpit. Kecemasan bukanlah dosa; itu adalah kondisi manusiawi.

Alih-alih menghukum diri sendiri, cobalah melihat kecemasan dan overthinking sebagai sebuah "alarm". Alarm yang mengingatkan bahwa beban ini terlalu berat untuk dipikul sendiri dan kita perlu berlari kembali kepada Bapa.


3 Langkah Rohani Mengatasi Overthinking

Ketika pikiran Anda mulai dipenuhi skenario "bagaimana jika" (what if), cobalah kembali pada prinsip "meskipun demikian" (even so). Berikut adalah langkah praktis dalam tradisi Katolik:

1. Doa Penyerahan (Surrender), Bukan Sekadar Laporan

Saat cemas, doa kita seringkali berubah menjadi daftar keluhan. "Tuhan, tolong selesaikan masalah A, masalah B, masalah C."

Cobalah ubah menjadi doa penyerahan. Salah satu doa yang paling kuat adalah Doa Penyerahan (Surrender Novena) dari hamba Allah Don Dolindo Ruotolo:

"O Yesus, aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu, berbuatlah seturut kehendak-Mu."

Ucapkan ini berulang-ulang seirama dengan napas Anda. Dengan menyerahkan kemudi kepada Yesus, kita melepaskan ilusi bahwa kita harus mengontrol segalanya.

2. Fokus pada "Roti Hari Ini"

Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan kita untuk meminta: "Berilah kami rejeki pada hari ini."

Tuhan tidak menjanjikan kekuatan untuk masalah minggu depan atau tahun depan sekarang. Dia memberikan rahmat (grace) secukupnya untuk hari ini. Overthinking seringkali terjadi karena kita mencoba menyelesaikan masalah masa depan dengan kekuatan hari ini. Hiduplah dalam momen sakramental saat ini (Sacrament of the Present Moment).

3. Hening di Hadapan Sakramen Mahakudus

Dunia kita sangat bising. Notifikasi handphone, berita, dan tuntutan sosial memperparah overthinking.

Luangkan waktu untuk Adorasi Ekaristi, atau sekadar duduk hening di gereja yang kosong. St. Yohanes Maria Vianney pernah bertanya pada seorang petani tua yang duduk berjam-jam di depan Tabernakel, "Apa yang kakek lakukan?" Petani itu menjawab:

"Aku memandang Dia, dan Dia memandang aku."

Terkadang, kita tidak perlu kata-kata. Kita hanya perlu "hadir" di hadapan-Nya agar damai sejahtera-Nya meresap ke dalam jiwa kita.


Nasihat dari Para Kudus

Para Santo dan Santa adalah teman seperjalanan kita yang juga pernah mengalami pergulatan batin. Ingatlah dua nasihat emas ini:

  • Santo Padre Pio: "Berdoalah, Berharaplah, dan Jangan Khawatir. Kekhawatiran tidak berguna. Tuhan penuh rahim dan akan mendengarkan doamu."

  • Santa Teresa dari Avila: "Nada te turbe..." (Jangan biarkan apa pun mengganggumu, jangan biarkan apa pun menakutkanmu. Segala sesuatu berlalu. Tuhan tidak pernah berubah. Kesabaran memperoleh segalanya. Barangsiapa memiliki Allah, tidak kekurangan apa pun. Allah saja cukup.)


Damai yang Melampaui Segala Akal

Jika kecemasan Anda terasa melumpuhkan dan mengganggu keseharian secara fisik maupun mental, ingatlah bahwa mencari bantuan profesional (psikolog/konselor) juga merupakan tindakan iman—karena Tuhan bekerja melalui para ahli medis untuk menyembuhkan kita.

Namun, untuk beban-beban pikiran sehari-hari, ingatlah janji Rasul Paulus dalam Filipi 4:6-7:

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."

Tuhan tidak berjanji badai akan langsung berhenti, tetapi Dia berjanji akan berada di dalam perahu bersama Anda. Dan itu sudah lebih dari cukup. (GN)