Mantila: Menyingkap Kembali Makna Kerudung Misa bagi Wanita Katolik

Dalam beberapa tahun terakhir, pemandangan wanita mengenakan kerudung renda atau mantila saat Perayaan Ekaristi mulai kembali terlihat di gereja-gereja Katolik, termasuk di Indonesia. Fenomena ini memunculkan pertanyaan bagi sebagian umat: Apakah ini tren mode belaka, ataukah ada makna rohani yang mendalam? Apakah penggunaannya diwajibkan oleh Gereja?

Artikel ini akan mengupas sejarah, aturan gereja, dan simbolisme di balik pemakaian mantila.

1. Apa Itu Mantila?

Mantila (dari bahasa Spanyol mantilla) adalah kerudung atau selendang renda ringan yang dikenakan di atas kepala dan jatuh hingga ke bahu. Dalam tradisi Katolik, ini sering disebut sebagai "kerudung misa" (chapel veil).

2. Dasar Biblis dan Sejarah

Tradisi ini berakar pada ajaran Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

"Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya..." (1 Korintus 11:5)

Selama berabad-abad, mengenakan penutup kepala bagi wanita saat beribadah adalah norma umum. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) tahun 1917, hal ini bahkan diwajibkan (Kanon 1262). Wanita diminta mengenakan penutup kepala sebagai tanda kerendahan hati dan kepatuhan saat berada di dalam gereja.

3. Apakah Sekarang Diwajibkan?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Jawabannya adalah Tidak.

Setelah Konsili Vatikan II, Gereja memperbarui hukumnya. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983 yang berlaku saat ini, aturan yang mewajibkan wanita menutup kepala telah dihapus.

Artinya:

  • Gereja tidak lagi mewajibkan wanita mengenakan mantila.

  • Namun, Gereja juga tidak melarang penggunaannya.

Pemakaian mantila saat ini adalah sebuah devosi pribadi. Ini adalah pilihan bebas setiap wanita Katolik sebagai bentuk ekspresi iman mereka, yang harus dihormati oleh sesama umat.

4. Simbolisme dan Makna Rohani

Mengapa banyak wanita modern, termasuk kaum muda, kembali memilih mengenakan mantila? Berikut adalah beberapa alasan rohani utamanya:

  • Meneladani Bunda Maria: Bunda Maria hampir selalu digambarkan mengenakan tudung kepala. Memakai mantila adalah cara sederhana untuk meniru kerendahan hati dan kemurnian Sang Bunda.

  • Menudungi yang Kudus (Veiling the Sacred): Dalam tradisi Katolik, hal-hal yang suci sering kali ditudungi (misalnya: tabernakel, piala, dan altar). Wanita dianggap sebagai bejana kehidupan yang suci (karena kemampuan mengandung kehidupan baru), sehingga memakai tudung adalah simbol penghormatan terhadap martabat luhur wanita itu sendiri di hadapan Tuhan.

  • Fokus dalam Doa: Secara praktis, mantila membantu membatasi pandangan periferal (samping), sehingga membantu pemakainya untuk lebih fokus menatap ke depan (ke arah Altar dan Tabernakel) dan mengurangi distraksi selama Misa.

5. Etiket Warna (Tradisi, Bukan Aturan Baku)

Meskipun tidak ada aturan tertulis yang kaku, ada tradisi umum mengenai warna mantila:

  • Putih/Gading: Biasanya dikenakan oleh wanita lajang (belum menikah) atau digunakan pada Hari Raya besar (Paskah/Natal).

  • Hitam/Gelap: Biasanya dikenakan oleh wanita yang sudah menikah atau janda.

  • Warna Lain: Saat ini, banyak mantila tersedia dalam berbagai warna (biru, abu-abu, cokelat) yang disesuaikan dengan preferensi pribadi atau warna liturgi, dan ini diperbolehkan.

Kesimpulan

Pemakaian mantila bukanlah tentang siapa yang "lebih suci" atau "lebih Katolik". Ini adalah sarana bantu doa dan ekspresi cinta yang indah kepada Tuhan dalam Ekaristi. Bagi yang mengenakannya, mantila adalah pengingat fisik akan kehadiran Tuhan. Bagi yang tidak mengenakannya, hal itu tidak mengurangi kadar iman mereka.

Gereja Katolik itu universal dan kaya akan tradisi; ada ruang bagi mereka yang memilih devosi ini, dan ada ruang bagi mereka yang tidak. Yang terpenting adalah hati yang tertuju pada Tuhan saat Perayaan Ekaristi. (UH)