Lebih dari Sekadar Menangkap Ikan

Menelusuri Kehidupan Nelayan di Zaman Yesus

Ketika kita membaca Injil tentang Yesus yang memanggil Simon (Petrus) dan Andreas dengan kalimat sederhana, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia," kita sering kali membayangkan mereka sekadar meletakkan jala dan pergi. Namun, untuk memahami besarnya pengorbanan dan kualifikasi mereka, kita perlu masuk ke dalam dunia mereka: dunia nelayan Galilea abad pertama.

Menjadi nelayan di zaman itu bukanlah hobi akhir pekan, melainkan sebuah industri yang keras, menuntut fisik yang kuat, dan penuh risiko. Berikut adalah gambaran mendalam tentang profesi yang ditekuni para murid pertama Yesus.

Medan Kerja: Danau Galilea yang Tak Terduga

Panggung kehidupan Simon dan Andreas adalah Danau Galilea (juga dikenal sebagai Danau Genesaret atau Danau Tiberias). Ini adalah danau air tawar yang luas (sekitar 21 km panjang dan 13 km lebar), dikelilingi oleh perbukitan.

Bagi nelayan zaman itu, danau ini memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah sumber kehidupan yang kaya akan ikan. Di sisi lain, karena letaknya yang berada di cekungan (sekitar 200 meter di bawah permukaan laut), angin dingin dari gunung sering bertabrakan dengan udara hangat di permukaan air, menyebabkan badai tiba-tiba yang ganas.

  • Implikasi: Nelayan harus memiliki keberanian, intuisi cuaca yang tajam, dan kemampuan navigasi yang handal untuk bertahan hidup.

Teknik Menangkap Ikan: Keahlian dan Otot

Dalam Injil, kita sering melihat istilah "jala" atau "pukat". Pada zaman itu, ada tiga metode utama yang digunakan, dan setiap metode membutuhkan keahlian khusus:

  • Jala Lempar (Amphiblestron): Ini kemungkinan besar adalah jenis jala yang sedang digunakan Simon dan Andreas saat Yesus memanggil mereka (Matius 4:18 mencatat mereka sedang "menebarkan jala"). Jala ini berbentuk lingkaran dengan pemberat di tepinya. Nelayan akan berdiri di pinggir air atau di perairan dangkal, lalu melemparnya dengan gerakan memutar yang presisi agar jala mengembang dan memerangkap ikan di dasarnya. Ini membutuhkan kekuatan lengan yang besar.

  • Pukat Seret (Sagene): Ini adalah jala yang sangat panjang (bisa ratusan meter) yang ditebar dari perahu, lalu ditarik ke darat oleh tim yang terdiri dari banyak orang. Ini membutuhkan kerja sama tim (gotong royong) yang kuat.

  • Jala Insang (Trammel Net): Terdiri dari tiga lapis jaring yang dipasang di malam hari. Ikan akan tersangkut saat mencoba menembusnya.

Status Ekonomi: Bukan Pengemis, Tapi Pekerja Keras

Ada kesalahpahaman umum bahwa para murid adalah orang yang sangat miskin. Secara historis, nelayan adalah kelas pekerja menengah ke bawah (rakyat jelata), tetapi mereka memiliki usaha bisnis.

  • Kepemilikan Aset: Mereka memiliki perahu, jala (yang mahal harganya), dan rumah (seperti rumah Petrus di Kapernaum).

  • Bisnis Keluarga: Dalam Markus 1:20, disebutkan bahwa Zebedeus (ayah Yakobus dan Yohanes) memiliki "orang-orang upahan". Ini berarti usaha perikanan mereka cukup besar hingga mampu menggaji karyawan.

  • Beban Pajak: Meskipun punya bisnis, hidup mereka berat karena sistem pajak Romawi. Mereka harus membayar pajak untuk hak menangkap ikan, pajak pelabuhan, dan pajak bea cukai untuk membawa ikan ke kota lain (seperti Yerusalem). Ikan adalah komoditas utama (sering diasinkan di kota Magdala) untuk diekspor.

Meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka berarti Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes meninggalkan stabilitas ekonomi dan aset berharga demi mengikuti seorang Guru yang tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Mengapa Yesus Memilih Nelayan?

Yesus bisa saja memilih ahli Taurat yang pintar atau orang kaya yang berpengaruh, tetapi Ia memilih nelayan. Mengapa? Profesi nelayan membentuk karakter yang sangat dibutuhkan untuk menjadi Rasul:

  1. Kesabaran: Nelayan tahu rasanya menunggu semalaman tanpa hasil, namun tetap berharap pada tangkapan berikutnya.

  2. Keuletan & Kerja Keras: Mereka terbiasa dengan tangan yang kasar, baju yang basah, dan bau amis. Mereka bukan orang yang takut "kotor" demi pekerjaan.

  3. Kerja Sama Tim: Mengendalikan perahu di tengah badai atau menarik pukat yang berat tidak bisa dilakukan sendirian. Mereka sudah terlatih dalam communia (persekutuan).

  4. Keberanian: Menghadapi badai di danau yang gelap membutuhkan nyali yang besar.

Kesimpulan

Ketika Yesus berkata, "Aku akan menjadikan kamu penjala manusia," Dia menggunakan bahasa yang sangat mereka pahami. Jika dulu mereka menebar jala untuk mengumpulkan ikan demi makanan jasmani, kini mereka dipanggil untuk menebar "jala" Injil untuk mengumpulkan jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah. Keahlian mereka tidak dibuang, melainkan diubahkan untuk tujuan yang lebih mulia.

Para nelayan Galilea ini mengajarkan kita bahwa Tuhan tidak selalu memanggil mereka yang mampu (secara intelektual atau status), tetapi Dia memampukan mereka yang bersedia bekerja keras dan meninggalkan segalanya untuk mengikuti-Nya. (EC)