Pernahkah Anda merasa bahwa doa "Bapa Kami" di pagi hari terasa seperti perlombaan lari cepat karena harus segera mengejar kereta atau menembus kemacetan? Atau mungkin saat Misa hari Minggu, pikiran Anda tidak sepenuhnya berada di altar, melainkan melayang pada presentasi hari Senin atau notifikasi tagihan yang jatuh tempo?
Jika iya, Anda tidak sendirian.
Di dunia yang bergerak serba cepat ini, menjadi Katolik yang taat sering kali terasa seperti tantangan ganda. Kita tidak hidup di biara yang hening; kita hidup di tengah hiruk-pikuk deadline pekerjaan, cicilan rumah atau kendaraan yang harus dibayar, serta kelelahan mental (burnout) yang mengintai di ujung hari.
Lantas, di mana tempat bagi Tuhan di antara tumpukan kewajiban duniawi ini? Apakah iman dan kesibukan adalah dua kutub yang saling menolak?
Kerja sebagai Doa (Ora et Labora)
Santo Benediktus mengajarkan kita prinsip "Ora et Labora"—berdoa dan bekerja. Sering kali kita memisahkan keduanya: Gereja adalah tempat untuk Tuhan, sedangkan kantor adalah tempat untuk mencari nafkah. Padahal, Gereja mengajarkan bahwa pekerjaan itu sendiri bisa menjadi bentuk doa jika dilakukan dengan niat yang benar dan hati yang tulus.
Ketika Anda menyelesaikan laporan dengan jujur dan teliti demi kebaikan perusahaan dan keluarga, itu adalah ibadah. Ketika Anda menahan emosi menghadapi klien yang sulit demi menjaga profesionalitas dan kasih, itu adalah mortifikasi (matiraga) modern. Tuhan tidak hanya hadir saat kita melipat tangan, tetapi juga saat kita menggulung lengan baju untuk bekerja keras bagi orang-orang yang kita kasihi.
"Jangan Khawatir" Bukan Berarti "Jangan Berusaha"
Salah satu ayat yang paling sering dikutip namun sulit dijalankan adalah Matius 6:34: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."
Di tengah himpitan cicilan, ayat ini mungkin terdengar tidak realistis. Namun, Yesus tidak menyuruh kita untuk menjadi pasif atau malas. Dia mengajak kita untuk mengubah fokus hati. Kekhawatiran sering kali muncul karena kita merasa harus mengendalikan segalanya sendirian.
Iman di tengah cicilan berarti melakukan perencanaan keuangan yang bijak sebagai bentuk tanggung jawab (Amsal 21:5), namun di saat yang sama melepaskan kecemasan berlebih dengan percaya bahwa Tuhan adalah Providentia Divina (Penyelenggara Ilahi). Kita melakukan bagian kita (bekerja dan mengatur uang), dan membiarkan Tuhan melakukan bagian-Nya (memberkati dan mencukupkan).
Menemukan "Ruang Hening" di Tengah Kebisingan
Burnout terjadi ketika batin kita kering. Seperti smartphone yang terus dipakai tanpa di-charge, kita pun akan mati daya. Dalam tradisi Katolik, kita memiliki kekayaan spiritual untuk mengatasi ini, bahkan tanpa harus pergi retret berhari-hari.
Cobalah "Doa Aspirasi" atau doa pendek di sela-sela kesibukan. Saat menunggu file terunduh, ucapkan dalam hati, "Yesus, aku percaya pada-Mu." Saat terjebak macet, alih-alih mengeluh, doakan satu kali Salam Maria untuk orang yang paling membuat Anda kesal hari ini. Momen-momen mikro ini adalah "oase kecil" yang menjaga jiwa tetap terhubung dengan Sang Sumber Air Hidup.
Salib Kita Hari Ini
Mungkin salib Anda hari ini bukan berupa penganiayaan fisik, melainkan tumpukan pekerjaan yang seolah tiada habisnya atau tekanan ekonomi yang menghimpit. Ingatlah bahwa Yesus juga pernah menjadi tukang kayu; Dia mengerti peluh keringat dan lelahnya fisik.
Bawalah deadline, cicilan, dan rasa lelah itu ke dalam Ekaristi. Persembahkan semuanya di atas patena bersama roti dan anggur. Biarkan Tuhan mengubah "keringat" Anda menjadi berkah yang menguduskan diri Anda dan keluarga.
Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses secara duniawi, Dia menuntut kita untuk setia. Dan kesetiaan itu sering kali teruji justru di hari-hari yang paling melelahkan.
Tetap semangat, dan berkah Dalem. (EKZ)
