Pesta Pembaptisan Tuhan
Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Pesta ini sekaligus menjadi penutup dari Masa Natal. Jika di kandang Betlehem kita melihat Tuhan yang lahir sebagai bayi yang rapuh, hari ini di Sungai Yordan, kita melihat Tuhan yang tampil sebagai pria dewasa yang siap memulai karya publik-Nya.
Namun, ada sebuah pertanyaan besar yang mungkin muncul di benak kita, sama seperti yang dirasakan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini: "Mengapa Yesus harus dibaptis?"
Kita tahu bahwa baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa. Yesus tidak berdosa. Dia adalah Anak Domba Allah yang murni. Lalu, mengapa Dia harus ikut antre, turun ke sungai, dan dibaptis bersama orang-orang berdosa?
Solidaritas Ilahi: Allah yang Turun ke "Air" Kita
Jawabannya terletak pada kata-kata Yesus sendiri: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah."
Yesus dibaptis bukan karena Dia butuh dibersihkan, melainkan karena Dia ingin menunjukkan solidaritas yang total dengan kita manusia. Bayangkan Sungai Yordan itu berisi "air kotor" dari dosa-dosa manusia yang dibasuh di sana. Yesus tidak menjauh, Dia justru masuk ke dalamnya.
Dia ingin mengatakan kepada kita: "Aku ada di sini, bersamamu, di tengah kelemahanmu, di tengah pergumulanmu." Dia adalah Hamba yang dinubuatkan Nabi Yesaya dalam bacaan pertama: sosok yang tidak berteriak-teriak atau mematahkan buluh yang terkulai. Dia adalah Allah yang lembut, yang turun ke bawah untuk mengangkat kita.
Identitas: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi"
Momen terpenting dalam peristiwa ini terjadi setelah Yesus keluar dari air. Langit terbuka, Roh Allah turun, dan terdengar suara Bapa: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Saudara-saudari, inilah identitas sejati Yesus. Sebelum Dia melakukan satu mukjizat pun, sebelum Dia menyembuhkan orang sakit, sebelum Dia mengajar, Bapa sudah menyatakan kasih-Nya. Yesus dikasihi bukan karena "prestasi"-Nya, tetapi karena "siapa Dia".
Dan inilah kabar gembira bagi kita semua hari ini. Saat kita dibaptis, langit juga terbuka bagi kita. Melalui pembaptisan, kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Kata-kata Bapa kepada Yesus, juga bergema untuk kita: "Engkau adalah anak-Ku yang kukasihi."
Di tengah dunia yang sering menilai kita dari apa yang kita punya, apa jabatan kita, atau seberapa sukses kita, Tuhan mengingatkan: nilaimu terletak pada kenyataan bahwa engkau adalah anak-Ku. Jangan biarkan kegagalan atau dosa membuatmu lupa akan identitas mulia ini.
Perutusan: Berjalan Berkeliling Sambil Berbuat Baik
Namun, menjadi anak yang dikasihi bukan berarti kita hanya diam dan menikmati status tersebut. Baptisan selalu diikuti dengan perutusan.
Dalam bacaan kedua, Petrus bersaksi tentang Yesus: "Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang... sebab Allah menyertai Dia."
Yesus diurapi Roh Kudus untuk melayani. Demikian juga kita. Setelah menyadari bahwa kita dicintai Tuhan, kita diutus untuk menjadi "terang bagi bangsa-bangsa" seperti kata Nabi Yesaya.
Bagaimana caranya? Tidak perlu hal yang rumit. Mulailah seperti Yesus: berjalanlah dalam keseharianmu—di rumah, di kantor, di lingkungan—sambil berbuat baik.
Jadilah pemaaf di tengah keluarga yang sedang konflik.
Jadilah jujur di tempat kerja yang penuh intrik.
Jadilah pembawa harapan bagi mereka yang "buluhnya terkulai" atau putus asa.
Saudara-saudari terkasih, mari kita perbarui janji baptis kita hari ini di dalam hati. Ingatlah tiga hal ini:
Solidaritas: Tuhan selalu beserta kita dalam situasi sesulit apa pun.
Identitas: Kita adalah anak-anak yang sangat dikasihi Bapa.
Misi: Kita diutus untuk menghadirkan kebaikan Allah di mana pun kita berada.
Semoga Roh Kudus yang turun dalam rupa merpati, senantiasa memimpin langkah hidup kita menjadi anak-anak terang.
Amin.
