Hari Raya Penampakan Tuhan

Minggu, 04 Januari 2026
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau yang sering kita sebut sebagai Epifani. Kata "Epifani" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "manifestasi" atau "memperlihatkan diri". Jika pada hari Natal kita merayakan kelahiran Yesus dalam kesunyian kandang Betlehem, hari ini kita merayakan rahasia besar bahwa Bayi itu adalah Terang bagi seluruh bangsa.


1. Terang yang Menembus Batas (Yesaya 60:1-6 & Efesus 3:2-3a, 5-6)

Nabi Yesaya menyampaikan nubuat yang penuh harapan: "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang." Di tengah kegelapan yang menutupi bumi, kemuliaan Tuhan terbit atas Yerusalem. Namun, terang ini bukan hanya untuk satu golongan.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua menegaskan "rahasia" yang kini tersingkap: bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi pun adalah ahli waris, anggota tubuh, dan peserta dalam janji Kristus. Epifani adalah Hari Raya Inklusivitas. Tuhan tidak membatasi kasih-Nya pada sekat-sekat suku, bangsa, atau latar belakang sosial. Kita semua diundang untuk mendekat ke arah Terang yang sama.

2. Tiga Sikap Menanggapi Kehadiran Tuhan (Matius 2:1-12)

Dalam Injil, kita melihat tiga kelompok manusia dengan cara berbeda menanggapi kelahiran Sang Raja:

  • Para Majus: Mereka adalah pencari kebenaran. Mereka bukan orang Israel, tetapi mereka peka terhadap tanda-tanda zaman (bintang). Mereka rela menempuh perjalanan jauh yang melelahkan demi mencari Tuhan.

  • Herodes: Ia merasa terancam. Baginya, kehadiran "Raja" baru adalah gangguan terhadap kenyamanan dan kekuasaannya. Ia menanggapi kehadiran Tuhan dengan ketakutan dan tipu daya.

  • Para Ahli Taurat: Mereka tahu secara teori. Ketika ditanya di mana Mesias lahir, mereka bisa menjawab dengan tepat: "Di Betlehem." Namun ironisnya, meski tahu lokasinya, mereka tidak beranjak dari tempat duduk mereka untuk menyembah-Nya.

Pertanyaannya bagi kita: Di manakah posisi kita? Apakah kita seperti Majus yang terus mencari, atau kita seperti Ahli Taurat yang tahu banyak tentang agama tetapi hati kita tidak pernah benar-benar tergerak untuk menjumpai Yesus?

3. Makna Persembahan Kita

Para Majus membuka tempat harta mereka dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Ini bukan sekadar hadiah, melainkan pengakuan iman:

  • Emas: Mengakui Yesus sebagai Raja semesta alam. Apakah Kristus sudah merajai keputusan dan prioritas hidup kita?

  • Kemenyan: Mengakui Yesus sebagai Allah/Imam. Apakah hidup kita sudah menjadi doa yang harum bagi-Nya?

  • Mur: Mengakui Yesus sebagai Manusia yang akan menderita dan wafat demi kita. Apakah kita bersedia memanggul salib bersama-Nya?

4. Pulang Melalui "Jalan Lain"

Injil diakhiri dengan kalimat yang sangat indah: "Maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain." Setelah berjumpa dengan Kristus, para Majus tidak bisa kembali melalui jalan yang sama (jalan Herodes yang penuh kebencian dan intrik). Perjumpaan dengan Tuhan seharusnya menghasilkan pertobatan. Kita tidak boleh menjadi orang yang sama setelah merayakan Natal dan Epifani. Kita dipanggil untuk menempuh "jalan lain": jalan kasih, jalan pengampunan, dan jalan kerendahan hati.


Saudara-saudari, mari kita jadikan hidup kita seperti "Bintang Timur" bagi sesama. Di kantor, di sekolah, di lingkungan rumah, atau dalam pelayanan kita di paroki, biarlah perbuatan kita menjadi penuntun bagi orang lain untuk menemukan Kristus.

Tuhan tidak meminta emas atau permata yang mahal dari kita hari ini. Ia hanya meminta hati yang mau mencari-Nya dan kaki yang mau melangkah di jalan-Nya yang baru.

Selamat Hari Raya Penampakan Tuhan. Berkat Tuhan menyertai kita semua. Amin.