Gereja vs. Gen Z: Masih Relevan?

Gereja vs. Gen Z: Masih Relevan?

Sebuah refleksi jujur tentang iman, institusi, dan kesehatan mental.

"Gereja Terasa Kaku & Birokratis?"

Banyak anak muda merasa Gereja saat ini terlalu fokus pada aturan institusional daripada hubungan personal. Rasanya ada jarak.

Validasi Perasaanmu: Wajar jika kamu lebih percaya pada influencer atau komunitas non-formal yang terasa lebih "mendengarkan" dan autentik. Yesus sendiri sering mengkritik ahli Taurat yang terlalu kaku pada aturan, namun lupa pada kasih.

"Iman itu bukan soal gedung atau struktur organisasi, tapi soal perjumpaan yang mengubah hati."

Tekanan "Sempurna" di Media Sosial

Kita hidup di era di mana nilai diri sering ditentukan oleh likes dan views. Ini melelahkan dan merusak kesehatan mental (anxiety, burnout, insecurity).

Seringkali Gereja dianggap tidak peka akan hal ini, atau malah menambah beban dengan penghakiman moral.

Kabar Baiknya: Di mata Tuhan, kamu tidak perlu filter. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana kamu bisa datang dengan segala "keretakan"mu tanpa takut dihakimi.

MBSB: Rumah, Bukan Kantor

Di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, kami sadar perubahan itu perlu. Kami tidak ingin menjadi institusi yang asing.

  • Gereja adalah Safe Space untuk kesehatan mentalmu.
  • Iman itu relevan dengan kehidupan modern, bukan dongeng masa lalu.

Jangan ragu untuk menyapa, DM Instagram paroki, atau sekadar duduk diam di gereja saat lelah dengan dunia maya.