Gereja Adalah Rumah Kita, Siapapun Gembalanya

Menyikapi Dinamika Relasi Umat dan Imam

Pernahkah Anda menyadari fenomena ini di lingkungan kita? Ada sosok pengurus atau umat yang dulunya sangat aktif, setiap minggu terlihat sibuk mengurus tata laksana atau koor, namun tiba-tiba "menghilang" dari peredaran. Usut punya usut, ternyata alasannya bukan karena sakit atau pindah rumah, melainkan karena "sakit hati" atau merasa tidak cocok dengan kebijakan Pastor Paroki yang sedang bertugas.

Fenomena ini sering berujung pada keputusan untuk "mengungsi" beribadah ke paroki tetangga, atau bahkan vakum total dari pelayanan gereja. Kalimat seperti, "Ah, nanti saja saya aktif lagi kalau Romonya sudah ganti," mungkin pernah terdengar samar-samar di telinga kita.

Sebagai umat beriman, bagaimana sebaiknya kita menyikapi dinamika "cocok-tidak cocok" dengan gembala kita sendiri?

1. Menyadari Sisi Manusiawi (Humanitas)

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa Gereja terdiri dari manusia-manusia yang tidak sempurna. Pastor Paroki, meskipun telah menerima tahbisan suci, tetaplah manusia yang memiliki karakter, gaya kepemimpinan, dan kelemahan personal. Demikian juga kita sebagai umat.

Gesekan, perbedaan pendapat dalam rapat Dewan Paroki, atau rasa tersinggung karena teguran, adalah hal yang manusiawi. Namun, jangan biarkan gesekan manusiawi ini menggerus hal yang ilahi. Ketika kita mundur karena satu orang, kita sedang membiarkan sisi kemanusiaan mengalahkan panggilan spiritual kita.

2. Fokus pada "Sang Tuan Rumah", Bukan Pelayannya

Gereja adalah Rumah Tuhan. Ketika kita datang merayakan Ekaristi, kita datang untuk memenuhi undangan Yesus Kristus, Sang Tuan Rumah. Imam adalah pelayan yang menghadirkan Kristus (In Persona Christi), namun ia bukanlah Kristus itu sendiri.

Jika kita pindah paroki atau mogok ke gereja hanya karena tidak suka dengan imamnya, mari kita bertanya pada diri sendiri: "Sebenarnya, untuk siapa saya ke Gereja? Untuk Tuhan, atau untuk Romo?"

Roti dan Anggur yang dikonsekrasi oleh Romo yang "menyenangkan" maupun Romo yang "kita benci", tetaplah Tubuh dan Darah Kristus yang sama. Rahmat Tuhan tidak berkurang sedikitpun karena ketidakcocokan kita dengan penyalurnya.

3. Umat adalah Pemilik Rumah, Imam adalah Gembala yang Diutus

Dalam struktur Gereja Katolik, imam bersifat nomaden (berpindah tugas) setiap periode tertentu (biasanya 3-5 tahun). Sementara itu, umat (Anda) adalah warga tetap yang tinggal di wilayah tersebut.

Gereja paroki adalah rumah rohani Anda dan keluarga Anda bertumbuh. Apakah bijaksana jika "pemilik rumah" pergi meninggalkan rumahnya sendiri hanya karena sedang tidak cocok dengan "pengelola" yang ditugaskan sementara waktu? Bertahan dalam situasi yang tidak nyaman justru menunjukkan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat terhadap paroki sendiri.

4. Ujian Kedewasaan Iman

Mudah bagi kita untuk melayani dan beribadah saat pemimpinnya sesuai dengan selera kita. Namun, karakter asli pelayanan kita diuji justru saat kita dipimpin oleh orang yang berseberangan dengan kita.

Apakah kita melayani demi ego dan kenyamanan, atau demi kemuliaan Allah? Tetap setia melayani dan hadir di paroki asal meski hati sedang "dongkol", adalah bentuk askese (latihan rohani) yang luar biasa. Ini adalah momen untuk mendoakan imam tersebut, bukan justru menjauhinya. Kritiklah dengan kasih melalui saluran yang tepat, bukan dengan aksi boikot.

Penutup

Bagi Bapak/Ibu atau saudara-saudari yang mungkin sedang "menepi" ke paroki tetangga atau sedang "cuti" pelayanan menunggu pergantian pastor, pintu rumah Anda di paroki ini selalu terbuka. Paroki ini membutuhkan talenta Anda, bukan karena siapa pastornya, tapi karena ini adalah ladang Tuhan yang dipercayakan kepada kita bersama.

Mari kita belajar untuk melihat melampaui sosok individu, dan menatap langsung pada Kristus yang menyatukan kita semua.

(RSA)