Di era digital yang serba cepat ini, menjadi orang muda—khususnya Generasi Z (Gen Z)—bukanlah hal yang mudah. Seringkali, generasi terdahulu memandang Gen Z sebagai generasi yang "lembek" atau terlalu bergantung pada gawai. Namun, di balik layar smartphone yang menyala, ada pertempuran batin yang nyata dan seringkali tidak terucapkan.
Di lingkup Gereja Katolik, kita menyadari bahwa tantangan rohani zaman ini tidak lagi hanya soal dogmatis, melainkan bagaimana iman bisa menjadi jawaban atas tekanan mental yang dihadapi kaum muda, khususnya terkait ketidaksetaraan sosial dan FOMO (Fear of Missing Out).
Jebakan "Scroll" dan Rasa Tidak Cukup
Pernahkah Anda membuka Instagram atau TikTok, lalu tiba-tiba merasa hidup Anda menyedihkan? Itulah realitas harian banyak anak muda kita.
Media sosial adalah etalase "hidup terbaik" orang lain. Gen Z terus-menerus disuguhi visual kemewahan, pencapaian karir di usia muda, liburan eksotis, hingga standar kecantikan yang tidak realistis. Ini menciptakan ilusi ketidaksetaraan yang menyakitkan.
Ketika seorang OMK (Orang Muda Katolik) melihat temannya sukses di usia 22 tahun sementara ia masih berjuang mencari kerja, timbul rasa rendah diri. Ketidaksetaraan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal validasi. "Apakah saya cukup berharga jika saya tidak sekeren mereka?"
Hantu Bernama FOMO
Selain ketidaksetaraan, ada hantu lain bernama FOMO (Fear of Missing Out). Bukan sekadar rasa takut ketinggalan pesta, tapi kecemasan mendalam bahwa "orang lain sedang menjalani hidup yang lebih bermakna daripada saya."
FOMO membuat Gen Z sulit untuk hening. Mereka merasa harus selalu online, selalu update, dan selalu hadir di setiap tren. Akibatnya? Kelelahan mental (burnout) dan hilangnya kemampuan untuk menikmati momen saat ini (the present moment).
Dalam keheningan Gereja, suara notifikasi seringkali terasa lebih mendesak daripada suara Tuhan.
Pandangan Iman: Menemukan Identitas Sejati
Lantas, bagaimana sebaiknya Gereja merespons ini? Kita perlu kembali pada satu kebenaran fundamental: Identitasmu tidak ditentukan oleh algoritma.
Yesus tidak memilih para rasul berdasarkan seberapa populer mereka atau seberapa kaya mereka. Ia memilih nelayan sederhana dan pemungut cukai. Dalam Galatia 6:4, Santo Paulus mengingatkan kita:
"Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."
Iman Katolik mengajarkan kita untuk melawan budaya perbandingan dengan budaya bersyukur.
Lawan FOMO dengan JOMO (Joy of Missing Out): Ada sukacita dalam "ketinggalan". Ketika kita berani meletakkan HP, kita hadir sepenuhnya untuk keluarga, sahabat, dan Tuhan.
Nilai Diri dari Tuhan, Bukan Likes: Tuhan menciptakan kita "sungguh amat baik" (Kejadian 1:31) tanpa filter dan tanpa editing. Kamu berharga karena kamu dicintai-Nya, bukan karena kamu setara dengan influencer.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Bagi teman-teman Gen Z di Paroki MBSB:
Puasa Digital: Cobalah untuk tidak membuka media sosial 1 jam setelah bangun tidur dan 1 jam sebelum tidur. Gunakan waktu itu untuk doa pagi atau malam.
Curhat yang Nyata: Datanglah ke kegiatan OMK atau lingkungan/paroki. Berbagilah cerita secara tatap muka, bukan hanya lewat story. Koneksi nyata menyembuhkan kesepian.
Bagi Orang Tua dan Umat Senior:
Validasi, Jangan Hakimi: Jika anak muda bercerita tentang stres mereka, jangan bandingkan dengan "zaman dulu". Dengarkanlah dengan hati. Tekanan mereka berbeda, namun rasa sakitnya sama nyatanya.
Penutup
Gereja adalah rumah bagi semua. Di sini, tidak ada yang perlu merasa tertinggal. Di hadapan Sakramen Mahakudus, kita semua sama—sama-sama kecil, namun sama-sama dikasihi tanpa syarat.
Mari kita belajar untuk "log out" dari keriuhan dunia sejenak, dan "log in" ke dalam hadirat Tuhan yang menenangkan.
(TEC)
