Pendahuluan
Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) dikenal dengan dinamika umatnya yang luar biasa. Di antara hiruk-pikuk pekerjaan, mengurus keluarga, dan kemacetan, masih banyak umat yang dengan tulus hati menyisihkan waktu untuk melayani di Gereja. Baik itu sebagai Dewan Paroki Pleno (DPP), prodiakon, katekis, koor, hingga relawan parkir.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa di tengah kesibukan yang padat, "gesekan" seringkali terjadi. Bukan karena niat jahat, melainkan seringkali karena komunikasi yang tersumbat. Lelah fisik bertemu dengan deadline program kerja gereja seringkali memicu kesalahpahaman. Lantas, bagaimana kita membangun komunikasi yang sehat—baik di dalam komunitas pastoran maupun antar pengurus—tanpa membiarkan ego menjadi penghalang?
Akar Masalah: "Gengsi" Rohani dan Lelah Manusiawi
Seringkali hambatan terbesar dalam pelayanan bukanlah kurangnya dana atau SDM, melainkan ego.
"Saya sudah melayani 20 tahun di sini, anak baru tahu apa?"
"Ide saya ditolak, berarti mereka tidak menghargai saya."
"Pastor tidak mengerti kondisi lapangan, pokoknya harus cara saya."
Kalimat-kalimat batin seperti di atas adalah bentuk "gengsi rohani". Ketika pelayanan berubah menjadi panggung untuk pembuktian diri, komunikasi menjadi kaku. Kita mendengar bukan untuk mengerti, melainkan untuk menjawab atau membantah. Ditambah dengan faktor kelelahan fisik karena kesibukan pribadi, sumbu kesabaran menjadi pendek.
1. Komunikasi Pastoran dan Dewan: Kemitraan, Bukan Atasan-Bawahan
Relasi antara Pastor Paroki/Rekan dengan Dewan Paroki (DPP/DKP) adalah relasi yang unik. Ini bukan relasi Boss dan Karyawan, melainkan Gembala dan Rekan Kerja.
Bagi Umat/Dewan: Ingatlah bahwa para Imam juga manusia yang memiliki batas energi. Komunikasi yang baik berarti memberikan data yang jelas, ringkas, dan tidak "asal bapak senang". Sampaikan tantangan riil di lapangan dengan jujur namun santun.
Bagi Pastoran: Keterbukaan untuk mendengarkan aspirasi kaum awam yang ahli di bidang profesionalnya masing-masing adalah kunci gereja yang sinodal.
Kunci: Hilangkan sekat "jubah". Dalam rapat, kita semua adalah pelayan Kristus dengan fungsi yang berbeda namun martabat yang sama.
2. Mengedepankan "Tabayyun" (Klarifikasi)
Di era WhatsApp Group yang serba cepat, teks seringkali disalahartikan karena tanpa nada bicara. Sebuah instruksi singkat bisa dianggap "galak", sebuah pertanyaan polos bisa dianggap "menantang".
Sebelum tersinggung, biasakan untuk klarifikasi (Tabayyun).
Daripada berasumsi: "Dia sombong sekali chat tidak dibalas,"
Lebih baik berpikir: "Mungkin dia sedang rapat di kantor atau mengurus anak sakit."
Mengalahkan ego berarti berani bertanya: "Maaf, maksud dari pesan Bapak/Ibu tadi bagaimana ya? Saya takut salah tangkap," daripada membicarakannya di belakang.
3. Rendah Hati: Obat Paling Manjur
Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (2:3) memberikan resep komunikasi terbaik: "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri."
Komunikasi yang baik di Paroki MBSB harus dilandasi kerendahan hati:
Berani meminta maaf jika nada bicara meninggi karena lelah.
Berani mengakui ide orang lain lebih baik demi kebaikan bersama.
Tidak membawa atribut jabatan "Duniawi" (Direktur, Manajer, Jenderal) ke dalam rapat pelayanan secara otoriter. Di sini, kita semua mengenakan "celemek" pelayanan.
Kembali ke Tujuan Awal
Mari kita ingat kembali, untuk siapa kita lelah-lelah rapat malam hari setelah pulang kerja? Untuk siapa kita berdebat menyusun anggaran?
Jika jawabannya adalah Untuk Tuhan dan Umat-Nya, maka tidak ada tempat bagi ego dan gengsi. Mari kita bangun Paroki MBSB menjadi rumah yang nyaman, di mana komunikasi mengalir sejuk, kritik disampaikan dengan kasih, dan perbedaan pendapat diselesaikan dengan doa, bukan dengan amarah.
Selamat melayani dengan sukacita!
(SK)
