Pernahkah Anda merasa bingung atau kecewa saat melihat seorang pelayan aktif di gereja—baik itu Prodiakon, Lektor, atau Pengurus Lingkungan—yang tampak begitu saleh di depan altar, namun kehidupan sehari-harinya jauh dari cerminan iman Katolik? Mungkin tutur katanya kasar, perilakunya merugikan tetangga, atau bahkan terlibat dalam perbuatan yang jelas bertentangan dengan iman.
Muncul pergolakan batin: "Kok dia bisa jadi pelayan Tuhan kalau kelakuannya begitu?" Sebagai umat yang dewasa dalam iman, bagaimana kita menyikapi fenomena "gandum dan ilalang" yang tumbuh bersama ini?
1. Pelayanan Adalah "Bengkel Rohani", Bukan Panggung Orang Suci
Kita perlu mengubah pola pikir kita. Gereja bukanlah ruang pameran bagi mereka yang sudah suci dan sempurna, melainkan "bengkel" bagi jiwa-jiwa yang sedang diperbaiki.
Ketika seseorang berdiri di altar, itu bukan tanda bahwa ia telah "lulus" dari ujian kehidupan. Justru, pelayanan adalah sarana pengudusan diri. Tuhan seringkali memanggil orang yang tidak sempurna untuk melayani-Nya, supaya melalui pelayanan itu, mereka pelan-pelan dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika gereja hanya menerima pelayan yang 100% suci tanpa cela, maka altar kita akan kosong.
2. Jangan Menjadi Hakim, Jadilah Saudara yang Mengingatkan
Membicarakan keburukan pelayan tersebut di grup WhatsApp atau bergosip seusai Misa tidak akan mengubah apapun, kecuali menambah dosa kita sendiri. Sikap ini justru merusak persekutuan umat.
Yesus mengajarkan Fraternal Correction (Tegur Sapa Persaudaraan). Jika perilakunya sudah menjadi batu sandungan (skandal), tegurlah secara personal dengan kasih, bukan dengan amarah. Jika kita segan, sampaikanlah kepada Romo Paroki atau Dewan Paroki secara tertutup. Tujuannya adalah pemulihan, bukan penghakiman.
3. Bedakan "Si Pembawa" dan "Si Pemberi"
Dalam ajaran Katolik, rahmat sakramen tidak tergantung pada kesucian pelayannya. Ketika seorang pelayan yang berdosa memberikan Komuni, Tubuh Kristus yang Anda terima tetaplah Kudus dan Valid.
Jangan biarkan perilaku manusia membuat Anda menjauh dari Tuhan. Fokuslah pada Kristus yang hadir dalam Ekaristi. Sayang sekali jika kita malas ke gereja hanya karena ilfeel melihat petugasnya. Itu artinya kita membiarkan si jahat menang dengan memisahkan kita dari sumber Rahmat.
Renungan Penutup:
Bagi kita yang melayani, mari jadikan ini cermin. Jubah pelayanan yang kita pakai adalah kain pinjaman dari Tuhan. Jangan sampai kita terlihat berkilau di dalam gereja, namun redup dan menjadi batu sandungan di luar gereja. Mari selaraskan altar dan kehidupan nyata.
