Melihat kursi kosong di samping kita saat Misa hari Minggu tentu menimbulkan rasa sesak di dada. Sebagai orang tua, Anda mungkin merasa gagal, kecewa, atau bahkan marah ketika anak memutuskan untuk berhenti ke Gereja.
Namun, Anda tidak sendirian. Ini adalah fenomena yang dihadapi banyak keluarga Katolik saat ini. Kabar baiknya: perjalanan iman anak Anda belum selesai.
Berikut adalah panduan pastoral bagi para orang tua untuk menghadapi situasi ini dengan kasih dan pengharapan.
1. Validasi Perasaan Anda (Tapi Jangan Terpaku di Sana)
Sangat wajar jika Anda merasa sedih atau merasa "gagal" menanamkan nilai iman. Namun, ingatlah bahwa Tuhan memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia, termasuk anak Anda. Iman adalah sebuah relasi pribadi yang tidak bisa dipaksakan.
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5)
2. Jaga Pintu Komunikasi Tetap Terbuka
Kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah menjadikan setiap pertemuan sebagai ajang "khotbah" atau perdebatan doktrin. Jika rumah terasa seperti pengadilan, anak akan semakin menjauh.
Dengarkan tanpa menghakimi: Tanyakan alasan mereka dengan tulus. Apakah mereka kecewa pada institusi? Sedang mengalami krisis intelektual? Atau sekadar malas?
Tunjukkan kasih tanpa syarat: Pastikan mereka tahu bahwa kasih Anda kepada mereka tidak bergantung pada kehadiran mereka di Gereja.
3. Menjadi "Injil yang Hidup"
St. Fransiskus Asisi pernah berkata, "Preach the Gospel at all times and when necessary use words." Jika kata-kata Anda tentang iman tidak lagi didengar, biarkan tindakan Anda yang berbicara.
Jadilah pribadi yang penuh sukacita, pemaaf, dan pengasih karena iman Anda. Jika anak melihat bahwa iman membuat Anda menjadi manusia yang lebih baik, mereka akan tetap memiliki rasa hormat terhadap Gereja melalui diri Anda.
4. Strategi "St. Monika": Kekuatan Doa
Jangan remehkan kekuatan doa seorang ibu atau ayah. St. Monika berdoa selama 30 tahun tanpa henti untuk pertobatan putranya, St. Agustinus. Hasilnya? Agustinus tidak hanya kembali ke Gereja, tetapi menjadi salah satu Pujangga Gereja terbesar.
Bawa dalam Ekaristi: Persembahkan niat khusus untuk anak Anda dalam setiap Misa.
Minta Bantuan Roh Kudus: Ingatlah bahwa hanya Roh Kudus yang bisa menyentuh hati terdalam manusia. Tugas Anda adalah menabur dan menyiram; Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Kesimpulan: Menunggu dengan Pengharapan
Ingatlah perumpamaan tentang Anak yang Hilang. Sang Ayah tidak mengejar anaknya ke negeri jauh untuk menyeretnya pulang. Ia menunggu di gerbang dengan tangan terbuka.
Tugas Anda sekarang adalah menjadi "gerbang" yang hangat, sehingga ketika anak Anda merasa haus akan kebenaran, ia tahu persis ke mana harus pulang. (HSW)
