Immanuel, Allah Beserta Kita dalam Ketulusan dan Ketaatan

HARI MINGGU ADVEN IV
Yes. 7:10-14; Rm. 1:1-7; Mat. 1:18-24

Dalam bacaan pertama, kita bertemu dengan Raja Ahas yang sedang dirundung kecemasan karena ancaman perang. Allah menawarkan tanda ajaib, namun Ahas menolak dengan alasan "tidak mau mencobai Tuhan," padahal sebenarnya ia lebih percaya pada kekuatan militer daripada kuasa Allah.

Meski manusia ragu, Allah tetap setia. Ia memberikan tanda-Nya sendiri: "Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia: Immanuel." Nubuat ini menjadi dasar pengharapan bahwa Allah tidak akan membiarkan umat-Nya berjalan sendirian dalam kegelapan.

Dilema dan Keheningan Yusuf (Matius 1:18-24)

Injil hari ini memusatkan perhatian kita pada sosok Santo Yusuf. Kita sering mendengar tentang Maria, tetapi hari ini kita belajar dari pria yang disebut "tulus hati" ini. Yusuf menghadapi situasi yang mustahil secara logika manusia: tunangannya hamil bukan olehnya.
  • Tulus Hati: Yusuf tidak ingin mempermalukan Maria di muka umum. Ia memilih jalan belas kasih di atas tuntutan hukum yang keras.
  • Mimpi dan Ketaatan: Allah menyapa Yusuf melalui mimpi. Malaikat berkata, "Jangan takut." Menariknya, dalam seluruh Injil, tidak ada satu pun kata-kata yang diucapkan oleh Yusuf. Ia adalah manusia tindakan. Begitu bangun, ia langsung melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.

Makna Nama "Yesus" dan "Immanuel"

Malaikat menjelaskan dua nama yang menjadi inti iman kita:
  • Yesus: Berarti "Tuhan Menyelamatkan". Ia datang untuk melepaskan kita dari belenggu dosa.
  • Immanuel: Berarti "Allah Beserta Kita". Ini bukan sekadar nama, melainkan janji kehadiran Allah yang permanen dalam sejarah manusia.

Refleksi untuk Kita Hari Ini


Di penghujung masa Adven ini, apa yang bisa kita bawa pulang ke dalam keluarga dan kesibukan kita?
  • Meniru Ketulusan Yusuf: Di dunia yang sering menuntut "hak" dan suka menghakimi orang lain secara terbuka (terutama di media sosial), Yusuf mengajarkan kita untuk bertindak dengan kasih dan menjaga martabat sesama, bahkan saat kita tidak memahami situasinya.
  • Mendengarkan dalam Hening: Allah berbicara kepada Yusuf saat ia sedang tenang dan tidur. Apakah kita sudah memberikan waktu hening di tengah hiruk-pikuk persiapan Natal (belanja, dekorasi, pesta) untuk mendengarkan bisikan "Malaikat" dalam hati kita?
  • Percaya pada Penyertaan Allah: Jika saat ini Anda merasa sedang menghadapi "jalan buntu" atau beban berat, ingatlah nama Immanuel. Allah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan bahwa Ia akan ada di sana, di samping Anda, menghadapi badai itu bersama-sama.

Mari kita buka pintu hati kita lebar-lebar. Seperti Yusuf yang mengambil Maria sebagai istrinya, mari kita mengambil Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Natal bukan sekadar perayaan ulang tahun bayi Yesus 2000 tahun lalu, melainkan perayaan bahwa Allah tetap beserta kita hari ini, besok, dan selamanya.

Amin.

(RB)