KASIH ITU DASAR HIDUP SEBAGAI ORANG BERIMAN

author photo May 08, 2021
Minggu, 9 Mei 2021
Hari Minggu Paskah VI

Bacaan: Kis. 10:25-26,34-35,44-48; 1Yoh. 4:7-10; Yoh. 15:9-17


Tidak sedikit orang tua, yang berharap supaya keluarganya tetap utuh, tidak rebutan warisan, hendaknya saling membantu atau mengasihi satu sama lainnya. Itulah ajaran atau warisan yang bijak dari orang tua bagi mereka yang akan ditinggalkan. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini tentang kasih dan mengasihi. Dalam bacaan Injil pada hari ini, Yesus mengatakan sebanyak lima kali tentang kasih (ay. 9, 10, 13), sebanyak tiga kali mengatakan mengasihi (ay. 9,12) dan dua kali dalam makna saling mengasihi (ay. 12, 17). 


Kita tahu bahwa kata dasar dari mengasihi adalah kasih. Dengan menyebut  kata kasih berulang kali itu, Yesus hendak menunjukkan kepada para muridNya, dan kita umatNya ini, bahwa kasih adalah prinsip  yang paling mendasar bagi sikap hidup beriman dan dasar perbuatan kita sebagai pengikut Yesus. Dalam Injil, kita dapat mengetahui betapa Yesus banyak mengajarkan dan memberi contoh perbuatan kasih secara nyata.  Penjabaran yang lebih rinci tentang kasih yang penuh makna hidup, antara lain dapat kita baca dalam suratnya yang pertama dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Rasul Paulus menunjukkan karakter dasar kasih itu antara lain adalah sikap sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong atau rendah hati, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mudah marah, tidak menyimpan dendam, dll. Di akhir pengajarannya itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa sekali pun kita mempunyai iman dan harapan, tetapi yang paling besar adalah kasih (bdk. 1Kor 13:1-13). Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaatnya di Korintus itu adalah warisan ajaran Yesus, yang disampaikan kepada para muridNya, saat perjamuan malam terakhirNya. Pengajaran Yesus tentang kasih itu bukanlah pengajaranNya yang didasari atas teori, melainkan didasari atas pengalaman relasional pribadi Yesus dengan Allah Bapa. Yesus sendiri mengatakan bahwa perbuatan kasih itu seperti BapaNya yang telah mengasihi diri Nya terlebih dahulu (ay. 1). Dan itu dikatakan juga oleh Rasul Yohanes, dalam bacaan kedua,   bahwa tindakan saling mengasihi itu adalah tindakan yang didasari oleh perbuatan Allah sendiri, yakni Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita, dengan mengutus Yesus sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Rasul Yohanes menegaskan bahwa kasih itu berasal dari Allah dan Allah adalah kasih itu sendiri( bdk. 1Yoh 3: 7, 10). 


Banyak dari kita mungkin berusaha untuk memiliki harta benda agar merasa hidup ini bahagia atau penuh sukacita. Namun, sering kali terjadi bahwa memiliki harta benda ternyata tidak menjamin kebahagiaan dalam hidup kita. Dalam bacaan Injil  hari ini, Yesus menawarkan kehidupan yang penuh sukacita, menurut ukuranNya, yakni  jika mampu menjalankan perintahNya, yaitu  saling mengasihi (ay. 12). Seperti kasih, perbuatan saling mengasihi itu adalah juga dasar hidup sebagai pengikut Yesus. Bahwa Yesus mengajarkan perbuatan kasih itu harus sampai rela memberikan nyawanya (ay. 13), tentu itu tidak diartikan secara harafiah dengan kematian jasmani. Maksud Yesus adalah bahwa dalam kehidupan kita berkeluarga, misalnya, kerelaan kita untuk meluangkan waktu berharga kita untuk bersama dengan pasangan atau anak-anak. Kita mengakui bahwa jaman sekarang ini, kita lebih mengasihi android, yang berisikan berita-berita, gosip-gosip atau chatting dengan orang lain yang tidak dekat secara fisik, sehingga melupakan relasi dengan anggota keluarga kita sendiri.


Semoga dengan sabda Tuhan hari ini, yang mengajarkan kepada kita  tentang kasih dan perintah saling mengasihi, itu akan membawa kita untuk menjadi orang yang semakin beriman secara nyata. Jika kita mampu mewujudkan perbuatan kasih dan saling mengasihi, maka kita percaya bahwa akan tumbuhlah sukacita yang penuh di dalam hidup kita bersama (bdk. Yoh. 15: 11).  Itulah yang dikehendaki Tuhan kepada kita. Karenanya, mari kita tetap hidup dalam kasih Tuhan, dan menjalankan perintahNya hari ini tentang kasihilah seorang akan yang lain. Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa dengan menjalankan perintah mengasihi seorang akan yang lain, itu sama saja dengan mengasihi dan menjadi sahabat baik Yesus. 


Dalam kehidupan kita sebagai pengikut Yesus, jika kita tidak tinggal di dalam kasihNya, maka hidup kita akan menjadi seperti bangunan yang tidak memiliki pondasi kuat, sehingga mudah roboh. Meski pun masih dalam masa pandemi ini, semoga kita terus mampu dan mau untuk mewujudnyatakan ajaran kasih itu dengan sungguh-sungguh, yang kita mulai dari lingkup terdekat kita, seperti keluarga dengan meluangkan waktu bersama. Atau, tetap dengan mentaati protokol kesehatan, bersama umat  di lingkungan secara bersama-sama memberikan bingkisan Lebaran untuk petugas keamanan lingkungan, petugas kebersihan, pengemis di jalanan, dsb. Semoga Tuhan membimbing dan memampukan kita untuk melaksanakan ajaran kasih dan perintah Tuhan itu. Amin.


Antonius Purbiatmadi






Next article Next Post
Previous article Previous Post