SURAT GEMBALA MASA PRAPASKAH 2021

author photo February 14, 2021

“KELUARLAH DARI ZONA NYAMANMU, BERTOBATLAH DAN BAHARUI DIRIMU”

Umat Keuskupan Bogor terkasih,

“Koyakkanlah hatimu, jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan” (Yoel 2:13) dan seruan “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” serta ucapan “Ingatlah bahwa engkau ini abu dan akan kembali menjadi abu” merupakan seruan-seruan yang didengungkan, disampaikan dan kerap dijadikan bahan kotbah di hari Rabu Abu, hari pertama dari masa Prapaskah atau masa Puasa 2021 di tengah gempuran virus corona atau Covid-19.

Hati kita terkoyak sedih dihadapkan dengan fakta bahwa banyak saudara-saudari yang kita kenal, baik keluarga, tetangga, rekan kerja, teman gereja, sahabat yang kita kenal dekat maupun orang yang hanya kita kenal secara umum, menderita sakit akibat virus ini, bahkan satu persatu dari mereka meninggal (*silakan berdoa sejenak bagi mereka saat engkau mengingat mereka tatkala membaca ini). Bahkan terjadi, dimana ada beberapa orang di dalam satu keluarga, dalam jarak waktu yang sangat dekat meninggal akibat Covid-19. Saat pandemik ini, kematian bukan lagi menjadi suatu pengalaman di luar diri kita. Peristiwa yang bagi sebagian orang dianggap sebagai hal yang mengerikan, tampak sebagai suatu yang dekat dan sangat nyata, berwajah serta tak pandang bulu. Sanak keluarga kita yang pada masa sehatnya terlihat gagah, cantik, memiliki jabatan tinggi baik dalam pekerjaan, organisasi kemasyarakatan, bahkan pula dalam gereja, serta memiliki gelar pendidikan, harus takluk dan menjadi debu, bersatu lagi dengan ibu bumi karena kematian menimpa dirinya. Hancur lebur bersatu dengan tanah. Benarlah seruan iman ini: “Engkau ini abu dan akan kembali menjadi abu”. Di hadapan peristiwa itu, kita berhenti dan terpana, merenung; kita bertanya apa makna kehidupan yang dianugerahkan Tuhan ini kepada kita? Bagaimana kita mesti memberi makna atas kehidupan yang kini sedang kita jalani.

Selain peristiwa kematian, pandemi ini menimbulkan goncangan, termasuk ketidakstabilan dalam kehidupan ekonomi baik internasional maupun nasional, regional, juga keluarga domestik. Penghasilah sangat menurun drastis, bahkan banyak yang kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Hal ini memunculkan penderitaan batin yang baru. Proses pembelajaran di sekolah pun dilaksanakan dengan cara baru. Yang lebih menantang lagi ialah perjumpaan-perjumpaan sosial kemanusiaan, kekeluargaan mesti dilaksanakan secara baru. “Habitus baru” dilakukan dengan: memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, serta meningkatkan imunitas tubuh dan imunitas rohani.

Saudara-saudari, kehidupan mesti berjalan terus. Kita tidak bisa berhenti meratapi efek ganda akibat virus corona yang menyentuh sisi-sisi emosi, afeksi manusiawi kita. Kita hidup dalam ruang dan waktu. Mulai Rabu Abu, kita memasuki masa prapaskah. Inilah rentang waktu 40 hari yang ditawarkan oleh Gereja kepada kita, mengajak kita memberi makna sesungguhnya akan kehidupan kita. Inilah kesempatan kita untuk menata suasana batin, merajut asa baru agar kita tidak terkungkung oleh kuasa ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, serta meratapi kehidupan ini. Inilah saatnya kita mengolah, menyusun daya jasmani dan rohani atas dasar iman kita akan Tuhan Yesus Kristus, sang Penebus dan Penyelamat kita. Inilah saatnya kita memperteguh jalan-jalan baru, cara-cara baru, kreasi-kreasi baru dalam segala bidang kehidupan kemanusiaan kita. Cara-cara baru itu antara lain misalnya: melakukan pola makan sehat, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baru, melakukan tata ibadah (sakramen, sakramentali) secara baru, merawat pasien secara baru, melakukan olah raga secara baru.

Ingatlah, Allah telah memperlengkapi kita dengan hikmatNya dan talenta yang sangat khusus bagi setiap orang. Allah mengetahui umat-Nya tetap dapat berjuang menghadapi peristiwa-peristiwa dalam masa pandemi ini. Kalau kita hanya meratapi nasib kita hari demi hari, sebenarnya itu sudah mendukakan Roh Allah; kita telah memandang rendah Allah yang telah menciptakan kita seturut dengan gambar-Nya. Pandemi ini memaksa kita keluar dari zona nyaman, dan sebagai manusia beriman, kita semakin menyadari bahwa hanya kekuatan dari Allah yang memampukan kita untuk tegak berdiri hingga saat ini.

Transformasi kehidupan menjadi keniscayaan (keharusan, tidak boleh tidak), kendati dalam hal kecil dan sederhana sekalipun. Kehidupan yang transformatif mesti terjadi. Dalam bahasa iman Gereja, transformasi setara dengan pertobatan. Bertobatlah, baharuilah dirimu, jadilah manusia baru. Itulah proses transformasi. Iman kepada Kristus mesti membawa dampak pembaruan diri kita. Dialah Tuhan yang lahir di dunia ini, merasakan pahit getir, suka duka kehidupan dalam keluarga di Nazaret, berkelana mewartatakan keselamatan kabar sukacita di seluruh daerah Galilea dan Yudea. Dia melihat dan merasakan derita orang sakit, duka keluarga yang ditinggalkan (Bdk. Luk 7:11-17). Dia membangkitkan harapan akan suatu kehidupan baru bagi yang sedang putus asa. Lebih dari itu semua – ini yang luar biasa – Dia sendiri merasakan penderitaan yang teramat sangat di jalan salib (via dolorosa-Nya), mengalami sakratul maut di atas salib, meregang nyawa dalam derita luar biasa. Namun Allah memberi kehidupan baru bagi-Nya. Allah mengalahkan kematian. Dia bangkit! Dia hidup! Maut dikalahkan! Perlu dicatat dalam hati kita; pada saat-saat derita di jalan salib-Nya bahkan dalam keadaan sakratul maut, di dekat-Nya ada sosok seorang Ibu yang tak lain adalah Bunda Maria, Mater Dolorosa, ditemani oleh sahabat-sahabat dekat Yesus, termasuk Yohanes Rasul, Maria, istri Klopas serta Maria Magdalena (Bdk. Yoh. 19:25). Betapa suatu persahabatan dan rasa kekeluargaan sejati terwujud juga di saat-saat getir kehidupan ini. Mungkinlah ini ekspresi cinta sejati?

Kita perlu mengakui pula bahwa pada masa pandemi ini banyak orang mengalami kasih sejati Tuhan melalui orang-orang lain di sekitarnya. Hubungan pribadi yang selama ini retak, tidak ada komunikasi, kini berubah. Terjadi pertobatan pribadi dan rekonsiliasi sejati. Rekonsiliasi itu telah membuat hidup bersama semakin indah, saling meneguhkan dan menguatkan. Persahabatan sejati antar manusia itulah yang dikehendaki Allah. Maka dalam masa Prapaskah ini, kita semua kembali memfokuskan kehidupan pada Tuhan Yesus Kristus. Kita diajak untuk mengenal, memperdalam iman kita akan Dia. Kita kembali kepada Injil. Kita melakukan evangelisasi (penginjilan) transformatif. Kita diajak untuk berpuasa. Kita diajak untuk berdoa: jalan salib, novena kerahiman ilahi, adorasi, doa rosario dan rupa-rupa bentuk doa lainnya. Kita diajak memberi derma. Kita diajak untuk membangun persaudaraan insani yang kuat. Keuskupan Bogor yang kita cintai ini mengajak kita semua untuk memperdalam dan melanjutkan terus pertobatan ekologis, dengan memberi perhatian pada hidup hemat listrik dalam kenormalan baru. Inilah tema APP 2021. Tema ini ditempatkan dalam konteks perubahan hidup kita yang mesti terjadi. Perubahan dari pola hidup dalam keserakahan pemakaian tenaga listrik, menuju ke pola hidup yang lebih memperhatikan kepentingan orang lain dan perawatan alam lingkungan hidup.

Akhirnya, umatku terkasih, marilah kita bertobat dan saling mengampuni. Bukalah hatimu bagi Roh Kudus agar Ia dapat berkarya secara penuh dalam hidup kita. Kuduslah kita, sebab Allah kita kudus. Tetaplah sapa sesamamu dan teruslah bangun persaudaraan sejati dengan mereka. Allah menginginkan kita menjadi duta kasih-Nya bagi mereka. “Silih asih, silih asah jeung silih asuh” (Saling mencintai, memberi nasehat, dan mengayomi).

Untuk umat semua yang kukasihi, sebuah puisi untuk mengakhiri suratku,

Menapak hari yang tak sama dengan yang lalu,
Menantang hidup dan melangkah teguh,
Di tengah getir kehidupan,
Salib-Mu tiang kekuatan,
Sinar-Mu menerangi dari kegelapan,
Kasih-Mu menenangkan kami,
Untuk siap dan waspada,
Sambil tetap menebar jala kasih,
Merajut cerita dalam kehidupan ini,
Dengan Iman dan Roh Kudus penuntun,
Menggali dan menemukan…
Mutiara makna kehidupan ini.

 

Bogor, 11 Februari 2021

 

Mgr. Paskalis Bruno Syukur
Uskup Keuskupan Sufragan Bogor
 
 

 
Next article Next Post
Previous article Previous Post