TANGGUH SEBAGAI MURID TUHAN

Minggu Biasa XIII
Bacaan: 2 Raj 4:8-11.14-16a; Rom 6:3-4.8; Mat 10:37-42

Tugas sebagai seorang murid adalah berusaha mengerti dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh gurunya. Tentu dalam upaya melaksanakan apa yang diajarkan itu pasti ada kesulitan, karena mungkin kurang mengerti akan apa yang diajarkan. Atau, mungkin juga ada hal-hal lain yang membuat dirinya merasa kesulitan atau menderita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu Pekan XIII ini tentang tantangan-tantangan sebagai murid Tuhan. Sebagai orang yang mengaku beragama Katolik seperti kita adalah juga  murid Tuhan. Melalui bacaan Injil hari Minggu ini, kita diajak untuk merefleksikan diri apakah dengan sungguh nyata kita sudah menjadi orang Katolik  atau murid Tuhan?

Kita tahu bahwa menjadi orang Katolik atau pengikut Tuhan memang banyak tantangan dan penderitaan. Tentu kita masih ingat, misalnya saja, berbagai  penolakan atau larangan mengadakan ibadat di rumah atau di tempat ibadah, dll. Baru-baru ini saja ada larangan penggunaan Kitab Suci dalam bahasa daerah. Larangan tersebut tentu melukai perasaan dan membuat penderitaan iman para jemaat.

Penderitaan iman yang kita alami dewasa ini, sudah disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri, sebagaimana kita dengarkan dalam   bacaan Injil hari ini. Melalui sabda Tuhan hari ini kita  diajar untuk menjadi orang beriman yang tangguh menghadapi penderitaan  iman.

Penderitaan iman yang utama adalah menentukan pilihan yang tepat terhadap yang kita kasihi: orang tua, anggota keluarga, nyawanya sendiri atau salib Tuhan? Memilih yang benar pun ternyata membuat kita menderita, seperti menghadapi buah simalakama. Memang demikianlah tuntutan Tuhan yang ditawarkan kepada kita.  Salah memilih tentu membawa konsekuensi tersendiri.

Jika kita mau mengikutiNya, maka kita harus menentukan pilihan secara tepat. Keputusan untuk mengikuti Tuhan harus mampu mengalahkan atau mematikan kepentingan pribadi kita terhadap keluarga, pekerjaan, dll. Jika kita benar memilih Tuhan, maka kita tak akan kehilangan upah dariNya. Itulah pembenaran atas iman kita (bdk. Mat 10:42). Iman yang benar adalah memikul, menyalibkan dan  mematikan kepentingan diri sendiri, lalu bersedia untuk  memikul salib Tuhan dan mengikutiNya (bdk. Mat 10:38).

Menjadi murid Tuhan memang harus selalu bersiap menghadapi penderitaan atau pencobaan. Dalam hidup kita memang harus  melalui penderitaan sebagai ujian untuk proses pemurnian iman. Kadang kita ragu-ragu, tidak tahan atau putus asa terhadap ujian iman. Seperti iman perempuan Sunem yang ragu-ragu untuk percaya akan apa yang dikatakan Elisa (bdk. 2Raj 4:16b).

Menjadi murid Tuhan adalah pilihan. Keputusan atas pilihan itu tentu didasari atas sikap iman yang benar. Menurut  Rasul Paulus, sikap iman yang benar tersebut akan membawa kita kepada kehidupan bersama Tuhan (bdk. Rom. 6 ay. 8). Semoga anda menjadi orang Katolik, menjadi murid Tuhan sungguh dilandasi oleh pilihan iman yang tepat dan benar. Dengan pilihan itu, maka anda harus selalu siap untuk konsekuensinya, yakni setia memikul salib Tuhan dan mengikutiNya. 


Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi

 

POPULAR