MENGIMANI ALLAH TRITUNGGAL

Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Bacaan: Kel. 34:4b-6.8-9, 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18

Hari Minggu ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Dalam keseharian kita, sebenarnya secara tidak langsung  kita sudah “mengenal” akan Tritunggal Mahakudus. Misalnya, setiap kali kita berdoa, kita pasti membuat tanda salib, “dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Atau di saat mendaraskan syahadat, seruan madah kemuliaan, nyanyian-nyanyian liturgi dan doa-doanya mengandung  ‘rumusan” Tritunggal, yakni “ ... dengan pengantaraan Kristus … bersama Allah Bapa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus …”. Namun, bagaimana sikap nyata dari iman kita dalam menghayati akan Tritunggal Mahakudus?

Sebagai orang Katolik kita sering mengalami kesulitan untuk memahami tentang Tritunggal Mahakudus. Demikian pula kita juga kesulitan dalam menjelaskan tentang Tritunggal Mahakudus. Ajaran iman inilah yang sering digunakan oleh pihak-pihak lain untuk dijadikan bahan “memperlemah” iman kita. Memang ajaran iman tentang Tritunggal Mahakudus ini tidak  mudah kita mengerti dengan cara rasional. Jika kita tidak mau mempelajari atau mendalami, apalagi kurang mengimaninya, maka iman kita akan mudah dikalahkan. 

Kita tentu mengenal kisah pertobatan St. Agustinus dari Hippo. Sewaktu Agustinus masih menjadi pengajar (profesor), pada suatu hari Agustinus berjalan-jalan di pinggir pantai sedang memikirkan Tuhan, yang dia anggap tidak ada. Selain itu Agustinus berpikiran bahwa Kitab Suci itu adalah kitab yang sederhana. Ketika berjalan-jalan itu, tiba-tiba St. Agustinus melihat seorang anak kecil sedang asyik bermain membuat lobang di pasir, lalu diisinya lobang itu dengan air laut. Rasa penasarannya membawa St. Agustinus mendekati anak kecil tersebut dan bertanya mengapa memasukkan air laut ke dalam lobang kecil itu.  Anak kecil itu menjawabnya, “Seperti engkau, bagaimana mungkin engkau memasukkan hakikat Allah yang tak terhingga  ke dalam kepalamu yang sangat kecil itu? Mendengar jawaban anak kecil itu, tertegunlah hati Agustinus. Lalu, ia pun bersujud sambil menyesali sikapnya. Ketika menoleh, anak kecil itu tak lagi tampak olehnya. Entah pergi kemana.

Untuk mengerti hakikat Allah memang kita tidak akan mampu. Hakikat Allah tidak bisa didefinisikan atau dimengertikan dengan kalimat yang baku. Untuk mengerti akan pribadi Allah Tritunggal  hanyalah dengan  mengimaniNya. Seperti dalam bacaan pertama, Musa memahami Allah sebagai Tuhan, Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya (bdk. Kel. 34:6). Musa melihat bahwa umat Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, yang penuh dengan kesalahan dan dosa. Maka, Musa memahami Allah adalah Allah yang belas kasihan, baik hati, dan pengampun (bdk. Kel. 34:9).

Sedangkan dalam bacaan kedua, Paulus memperkenalkan kepada  kita akan Allah Tritunggal, seperti yang diungkapkan dalam salam dari suratnya kepada jemaat di Korintus “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Paulus memahami  hakiki Allah Tritunggal, yaitu Allah adalah sumber kasih dan damai sejahtera, Yesus Kristus yang adalah kasih dan damai sejahtera itu sendiri, dan Roh Kudus yang menyatukan (bdk. 2 Kor 13:13).

Sementara itu dalam bacaan Injil, Yesus menjelaskan kepada Nikodemus (orang Farisi) tentang rahasia-rahasia pribadi Allah. Yesus memperkenalkan Allah sebagai Allah yang memiliki kasih yang besar bagi dunia, Allah yang rela  mengaruniakan DiriNya, untuk dunia” (bdk. Yoh 3:16). Dan Yesus menjelaskan bahwa DiriNya adalah yang dimaksudkan dengan AnakNya yang tunggal, yang diutus oleh Allah Bapa untuk  menyelamatkan dunia lewat penderitaan dan wafatNya di salib. Kepada Nikodemus, Yesus juga  menjelaskan bahwa barangsiapa percaya padaNya akan peroleh hidup kekal.

Dalam banyak hal di kehidupan kita, kita mengalami banyak kesulitan untuk mempercayai sesuatu, kalau kita belum melihat, mengerti atau mengalami terlebih dahulu. Biasanya kita suka memaksakan diri mengerti terlebih dahulu, entah dengan cara melihat, mendengar, merasakan atau mengalami,  baru kemudian  mau  percaya. Allah Tritunggal adalah misteri iman kita. Melalui bacaan Injil pada hari ini, Yesus menghendaki agar kita terlebih dahulu membangun iman atau percaya padaNya, supaya kita dimampukan untuk mengerti rahasia pribadi Allah Tritunggal.

Sekalipun kita ini sudah lama menjadi orang Katolik, kita ini seperti Nikodemus atau St. Agustinus, yang sungguh mengalami kesulitan untuk mengerti hakikat pribadi Allah Tritunggal. Akal budi kita sangatlah terbatas dan pasti tidak mampu untuk memahami  pribadi Allah dengan pikiran atau rasio. Menjelaskan tentang Allah Tritunggal tidak bisa dengan analogi-analogi pikiran rasional. Agar mengerti akan  pribadi Allah Tritunggal, kita perlu sering meluangkan waktu guna berbincang-bincang secara pribadi dengan Yesus. Kita mohon bimbingan Roh Kudus, untuk mendengarkan suara Yesus agar kita mengerti dalam iman yang dalam akan rahasia Allah Tritunggal Mahakudus.

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi


POPULAR