JALAN KESELAMATAN MENUJU HIDUP KEKAL

Minggu Paskah V Tahun A
Bacaan: Kis. 6:1-7; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.

Di saat kita dalam perjalanan pulang dari bepergian atau habis kerja di kantor, tentu pikiran memiliki gambaran untuk segera tiba di rumah dengan selamat. Demikian halnya harapan dari yang di rumah. Rumah dan keselamatan adalah hal yang utama dalam hidup kita, tidak saja dalam artian lahiriah tempat tinggal bersama keluarga di dunia. Rumah dan keselamatan juga harus menjadi hal utama bagi kehidupan rohani kita. Agar kita sampai di rumah dengan selamat, maka kita harus melalui jalan yang benar dan menjamin keselamatan kita.

Dalam bacaan Injil pada hari Minggu Paskah V ini, Yohanes Penginjil mewartakan tentang diri Yesus yang  adalah jalan kebenaran  bagi kehidupan kita, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tiada seorangpun dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Aku” (bdk. ayat 6). Melalui sabdaNya hari ini, Yesus hendak menegaskan kepada kita semua bahwa keselamatan hidup kekal  itu hanya terjadi kalau kita datang dan percaya pada diriNya. Melalui sabdaNya pada Injil hari ini, Yesus tidak saja menyatakan diri sebagai jalan keselamatan bagi kehidupan kekal kita, melainkan juga menjanjikan tempat bagi kita untuk beristirahat dari segala kelelahan.

Di bagian lain, Yesus menyatakan telah pergi ke tempat itu untuk kita (ayat 2-4). Apa maksudnya? Pernyataan Yesus itu hendak mengingatkan kepada kita bahwa demi keselamatan kita, Dia telah mengalami penderitaan, wafat di salib dan bangkit serta naik ke sorga dengan mulia. Itulah jalan yang Dia lewati selama di dunia.

Pekerjaan Yesus di dunia sudah dilakukan dengan baik. Namun, pekerjaanNya terus berkelanjutan selama bertahta di sorga hingga dalam kemuliaanNya di sorga saat ini.  Kemuliaan itu tidak Yesus nikmati sendirian, melainkan ingin dinikmati bersama-sama dengan kita. Jika kita ingin menikmati kemuliaanNya, maka syaratnya kita pun harus  menjalankan apa yang Yesus alami selama di dunia. Mampu dan maukah kita menjalankan hal-hal yang Yesus lakukan dan ajarkan selama hidupNya?

Sebagaimana layaknya kita kelelahan akibat pekerjaan kita sehari-hari atau sehabis melakukan perjalanan jauh, maka tempat istirahat adalah tujuan kita, bukan? Sebagai manusia rohani, kita juga sedang dalam perjalanan yang sering kali mengalami kelelelahan karena  perjalanan hidup kita yang melenceng dari arah tujuan karena godaan atau kehendak kita sendiri. Bahwa pada akhir hidup kita nanti akan ada jalan menyimpang, yakni jalan yang menuju hidup dalam kemuliaan Tuhan atau jalan menuju ke penderitaan abadi. Kita harus memilihnya. Penentuan pilihan itu harus dimulai dari sekarang.

Kita hidup sebagai musafir atau peziarah yang hendak bertemu Tuhan. Dalam perjalanan kita  di dunia ini pasti banyak mengalami kelelahan, yang menyebabkan sakit atau putus asa. Lewat suratnya, St. Petrus mengingatkan kita agar kita selalu bertumpu pada Yesus, batu hidup yang  telah menjadi batu penjuru. Jika kita bertumpu padaNya, maka kita akan mendapat topangan yang kuat, sehingga  sehingga kita pun mampu memiliki bangunan (baca: hidup) yang sesuai dengan kehendakNya.

Dalam sabdaNya hari ini, Yesus paling tidak menyebutkan empat kali kata “percaya”. Hal ini dapat kita mengerti bahwa Tuhan menghendaki supaya perintah “percaya” ini kita taati terus menerus dengan penuh iman. Percaya adalah kewajiban utama kita sebagai orang beriman.  


Selamat Berhari Minggu.

(Antonius Purbiatmadi)


POPULAR