Maria Bunda Segala Bangsa
20 Mei 2008
Kota Wisata, Jl. Transyogi Km. 6
Nagrak, Gunung Putri, Bogor 16967
(021) 8493 2402
sekretariatmbsb@gmail.com
Sejarah Perjalanan Iman
Awal Mula (1975 - 1988)
Perjalanan sejarah menjadi Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) dimulai saat umat Katolik di Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi, Jonggol dan Cariu masih menjadi bagian dari Wilayah St. Yudas Tadeus yang merupakan salah satu wilayah dari Stasi St. Simon (Stasi Citeureup).
Pada 5 Juli 1975, Stasi St. Philipus (bagian dari Paroki Katedral Bogor) diresmikan menjadi Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Kelahiran paroki ini dibidani oleh Pastor GWJ. Ruijs, OFM. Pada periode 1976-1977, perkembangan umat mulai terdata berkat kedatangan guru-guru Inpres beragama Katolik dari Yogyakarta yang ditempatkan di Jonggol, Cariu, dan Cileungsi.
Terbentuknya Stasi St. Yohanes Berchmans (1988)
Perkembangan yang cukup pesat di Kecamatan Jonggol dan Cileungsi mendorong perubahan status wilayah. Pada 26 November 1988, daerah Kecamatan Cileungsi dikukuhkan menjadi Stasi St. Yohanes Berchmans. Perayaan ekaristi saat itu masih diadakan dari rumah ke rumah setiap dua minggu sekali.
Periode-periode awal kepengurusan stasi diwarnai dinamika yang kuat. Dari pelayanan yang dipusatkan di rumah Bapak Paulus Sutiman (1988-1994), hingga tantangan berupa intimidasi dan larangan beribadah. Namun, semangat umat tidak surut. Tahun 1994, umat stasi mencapai 100 KK meskipun menghadapi kendala penghancuran tiang pancang gereja di lahan fasos Kenari.
Kehadiran Suster PBHK & Kota Wisata (1997 - 2004)
Tuhan membuka jalan baru. Pada 4 November 1997, Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM menerima Tarekat Suster-suster Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) untuk berkarya di Kota Wisata. Kehadiran susteran ini menjadi oase; rumah mereka menjadi tempat perayaan ekaristi rutin setiap Jumat sore.
Pada Februari 2000, tercapai kesepakatan penggunaan selasar sekolah BHK untuk Misa Mingguan. Di periode inilah, Panitia Pembangunan Gereja (PPG) terbentuk dan berhasil mendapatkan hak penggunaan tanah seluas ± 6000 m2 dari pengembang Kota Wisata serta IMB untuk mendirikan gereja, pastoran, dan gedung serba guna.
Masa "Tenda Darurat" & Paroki Persiapan
Tahun 2004 menjadi titik balik. Dampak situasi eksternal memaksa umat memindahkan perayaan ekaristi dari sekolah ke bangunan gereja yang belum jadi. Tanpa atap, berlantaikan tanah, dan hanya beratapkan tenda darurat. Umat seringkali kepanasan atau basah kuyup terkena lumpur saat hujan.
Namun, dalam keprihatinan itu, jumlah umat justru meledak. Pada 21 Juli 2004, status stasi ditingkatkan menjadi Paroki Persiapan Cileungsi melalui SK Uskup Nomor 15/SKB/VII/2004. Paroki persiapan ini membawahi Stasi St. Arnoldus Jonggol dan St. Maria Mediatrix.
Lahirnya Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (2008)
Pembangunan fisik terus berjalan. Bangku gereja mulai digunakan Natal 2006, dan pastoran selesai Desember 2008. Puncaknya terjadi pada 20 Mei 2008.
Saat menjadi tuan rumah tahbisan 1 Imam dan 3 Diakon, dalam homilinya, Mgr. Cosmas Angkur, OFM secara lisan mengumumkan Paroki Persiapan resmi menjadi Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Tanggal 20 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun Paroki.
Per Juli 2019, Stasi St. Arnoldus, Jonggol telah diresmikan menjadi Paroki Hati Kudus Yesus. Saat ini Paroki Maria Bunda Segala Bangsa digembalakan oleh RD. Bonifasius Heribertus Beke.
Sumber: Buku Sejarah Perkembangan Stasi Yohanes Berchmans & Dokumen Paroki.