Topeng

Di era media sosial ini, menjadi "terlihat kudus" jauh lebih mudah daripada benar-benar menjadi kudus. Cukup pasang ayat Kitab Suci di bio profil, unggah foto gereja dengan pencahayaan estetik setiap Minggu pagi, dan gantungkan rosario paling berkilau di kaca spion mobil. Sempurna. Citra sebagai umat beriman yang saleh, rendah hati, dan penuh kasih pun langsung terbentuk.

Namun, masalah sering kali baru dimulai tepat ketika kita melangkah keluar dari halaman gereja.

Mobil dengan rosario di spion tadi tiba-tiba berubah menjadi mesin penebar teror di jalan raya: klakson dibunyikan membabi buta karena enggan mengalah, sumpah serapah meluncur deras dari balik kaca gelap saat jalanan macet, hingga memotong jalur pengendara lain tanpa rasa bersalah. Tangan yang lima belas menit lalu baru saja menengadah menerima Komuni Kudus, kini dengan lincah mengacungkan jari atau mengetik komentar paling julid di kolom gosip media sosial.

Selamat datang di fenomena Iman Kosmetik—ketika identitas Katolik hanya dijadikan riasan wajah untuk memoles reputasi sosial, bukan kompas yang mengarahkan cara hidup.

Sindrom Farisi Gaya Baru

Dua ribu tahun lalu, Yesus sudah sangat akrab dengan tipe manusia seperti ini. Ia menyebut mereka dengan istilah yang cukup pedas: kuburan yang dilabur putih. Dari luar tampak bersih, rapi, dan terhormat, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan segala jenis kebusukan.

Versi modernnya tidak jauh berbeda, hanya ganti kostum dan properti:

  • Aktif di Pelayanan, Pasif di Empati: Di lingkungan atau paroki dikenal sebagai aktivis gereja paling vokal dan dermawan. Namun di tempat kerja, ia menjadi atasan yang hobi memotong hak bawahan, atau rekan kerja yang paling gemar menusuk dari belakang demi jabatan.

  • Lantang Berdoa, Pelit Mengampuni: Hafal berbagai doa novena di luar kepala dan rajin berziarah ke gua Maria dari ujung ke ujung pulau, tetapi menyapa tetangga sebelah rumah yang pernah berselisih paham saja enggan.

  • Kutipan Ayat Sebagai Tameng: Status WhatsApp selalu penuh dengan kutipan tentang kasih dan pengampunan, tetapi menjadi orang pertama yang menagih utang dengan cara mempermalukan, atau justru paling pintar mencari alasan rohani saat dirinya sendiri ditagih utang.

Mengapa hal ini begitu menggoda untuk dilakukan? Jawabannya sederhana: karena simbol agama memberikan "stempel orang baik" secara instan. Masyarakat kita masih sangat mudah terkesima pada atribut luar. Kalung salib, stiker rohani, dan jabatan kepanitiaan di gereja sering kali menjadi jalan pintas untuk mendapatkan kepercayaan orang lain tanpa perlu bersusah payah membangun integritas dari dalam.

Tuhan Tidak Butuh Pencitraan Kita

Ada satu hal mendasar yang sering kita lupakan saat sibuk membangun panggung kesalehan: Tuhan tidak bisa disuap dengan atribut, dan Ia sama sekali tidak terkesan dengan personal branding rohani kita.

Kekatolikan sejati bukanlah kostum hari Minggu yang bisa digantung kembali di lemari saat hari Senin tiba. Iman yang hidup justru diuji di tempat-tempat yang paling tidak rohani: di tengah kemacetan jalan raya yang panas, di meja kerja saat ada peluang untuk curang, di grup obrolan saat gosip hangat mulai bertebaran, dan di meja makan keluarga saat emosi sedang memuncak.

St. Fransiskus dari Assisi pernah dikaitkan dengan sebuah pengingat klasik: "wartakanlah Injil setiap saat, dan jika perlu, gunakanlah kata-kata." Artinya, cara kita memperlakukan tukang parkir, kejujuran kita saat tidak ada yang mengawasi, serta kelembutan kita pada orang yang tidak bisa memberi keuntungan apa pun bagi kita, adalah khotbah yang jauh lebih nyaring daripada seribu unggahan rohani di media sosial.

Melepas Topeng, Memulai yang Asli

Tidak ada yang salah dengan memakai kalung salib, memasang rosario di mobil, atau membagikan kutipan ayat di media sosial. Semua itu baik jika menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk tetap berjalan di jalur kasih. Namun, jangan sampai simbol-simbol itu hanya menjadi "kostum domba" untuk menyembunyikan ego kita yang masih gemar memangsa sesama.

Sebelum sibuk memastikan orang lain tahu bahwa kita ini orang Katolik yang taat, ada baiknya kita bercermin sejenak hari ini. Saat orang-orang di sekitar melihat tingkah laku kita sehari-hari, apakah mereka melihat wajah Kristus yang penuh kasih, atau justru sedang mengelus dada sambil membatin, "Katanya rajin ke gereja, kok kelakuannya begini?"

Jangan sampai salib hanya tergantung indah di leher, sementara di kepala kita, tanduk kesombongan dan keegoisan tumbuh semakin subur. (EKZ)