"Saya tidak mau menghakimi, tapi..."
Kalimat ini adalah salah satu mukjizat terbesar dalam kehidupan umat. Dalam hitungan detik, ia mampu mengubah gosip menjadi seolah-olah pelayanan pastoral. Begitu kalimat itu diucapkan, semua orang tahu bahwa sebuah penghakiman sedang mencari tempat mendarat.
"Saya tidak mau menghakimi, tapi..."
Lalu yang keluar bukan sekadar penilaian. Keluar riwayat hidup, silsilah keluarga, analisis kepribadian, prediksi masa depan, bahkan kadang-kadang diagnosis rohani tanpa gelar apa pun. Kalau Santo Petrus menyangkal Yesus tiga kali, kita kadang bisa menghakimi seseorang tiga belas kali dalam satu pertemuan lingkungan.
Dosa yang Paling Mudah Dilihat: Dosa Orang Lain
Aneh memang. Kita sering kesulitan menemukan kesombongan di dalam hati sendiri, tetapi sangat cepat menemukan ketidaksempurnaan orang lain. Ada umat yang lupa bacaan Injil hari Minggu kemarin, tetapi masih ingat kesalahan tetangganya sejak Pilkada yang lalu. Ada yang tidak hafal Sepuluh Perintah Allah, tetapi hafal lima belas kelemahan anggota koor. Ada yang jarang membuka Kitab Suci, tetapi rajin membaca kehidupan orang lain.
Bahkan beberapa orang memiliki karunia khusus yang belum diakui Gereja: Kemampuan mendeteksi dosa sesama dari jarak jauh.
Menjadi Hakim Tanpa Harus Kuliah Hukum
Yang menarik, penghakiman selalu terasa lebih ringan ketika dilakukan kepada orang lain. Ketika kita terlambat datang Misa: "Jalan macet." Ketika orang lain terlambat: "Kurang disiplin." Ketika kita melakukan kesalahan: "Saya sedang banyak beban." Ketika orang lain melakukan kesalahan: "Memang karakternya begitu." Ketika kita jatuh dalam dosa: "Saya sedang berproses." Ketika orang lain jatuh dalam dosa: "Nah, kan! Dari dulu saya sudah curiga."
Untuk diri sendiri kita menyediakan pembela terbaik. Untuk sesama kita menyediakan jaksa paling ganas.
Sakramen yang Tidak Ada: Pengakuan Dosa Tetangga
Dalam Gereja Katolik ada Sakramen Tobat. Tetapi terkadang sebagian umat tampaknya lebih menghayati sakramen yang tidak pernah diajarkan Gereja: Sakramen Pengakuan Dosa Tetangga.
Ritualnya sederhana. Berkumpul, minum teh atau kopi, lalu dosa orang lain dibahas dengan penuh semangat. Yang mengagumkan, pelakunya sering berbicara seolah-olah hadir saat kejadian. Padahal sumber datanya hanya satu: "Katanya..."
Dan dalam banyak komunitas, "katanya" memiliki wibawa yang kadang mengalahkan fakta.
Tuhan Rupanya Kehilangan Pekerjaan
Ada juga fenomena lain yang menarik. Beberapa dari kita tampaknya khawatir Tuhan tidak cukup sibuk mengurus dunia. Karena itu kita menawarkan bantuan tambahan berupa penghakiman gratis. Kita menilai siapa yang saleh. Kita menilai siapa yang munafik. Kita menilai siapa yang layak melayani. Kita menilai siapa yang pasti masuk surga. Kadang bahkan kita nyaris menentukan siapa yang patut masuk neraka.
Untungnya Tuhan tidak mengangkat panitia seleksi surga dari grup WhatsApp lingkungan. Kalau tidak, mungkin banyak santo yang ditolak karena latar belakangnya. Petrus terlalu emosional. Paulus terlalu ekstrem. Matius bekas pemungut cukai. Maria Magdalena punya masa lalu. Syukurlah Yesus lebih memperhatikan pertobatan daripada reputasi.
Hobi Mengukur Orang dengan Meteran yang Salah
Masalah terbesar dari penghakiman bukan karena kita melihat kesalahan. Kesalahan memang ada. Dosa memang nyata. Yang menjadi masalah adalah kita sering memakai meteran yang berbeda.
Untuk diri sendiri: kasih. Untuk orang lain: hukum.
Untuk diri sendiri: pengertian. Untuk orang lain: kecurigaan.
Untuk diri sendiri: kesempatan kedua. Untuk orang lain: vonis permanen.
Padahal inti Injil bukanlah menjadi ahli membaca cacat sesama. Inti Injil adalah belajar mengasihi sesama yang sama-sama cacat.
Sebelum Mengucapkan "...Tapi"
Mungkin lain kali ketika kalimat "Saya tidak mau menghakimi, tapi..." mulai naik ke ujung lidah, kita bisa berhenti sebentar. Ambil napas. Periksa hati. Lalu bertanya: Apakah saya ingin membantu orang ini, atau hanya ingin menikmati kesalahannya? Karena sering kali kata "tapi" itu bukan jembatan menuju kebenaran. Ia hanyalah pintu belakang bagi kesombongan untuk masuk tanpa izin. Dan mungkin, jika Yesus duduk di samping kita saat itu, Ia akan tersenyum lalu berkata: "Kamu benar. Jangan menghakimi." Titik. Tanpa "tapi". ♦
Catatan Redaksi: Bila setelah membaca artikel ini Anda langsung teringat seseorang yang cocok membacanya, kemungkinan besar Anda baru saja melewatkan poin utamanya. 😇
(EKZ)
