Romo, Saya Sudah Banyak Berjasa

Di setiap komunitas Gereja, biasanya ada satu jenis manusia yang sangat istimewa: pelayan senior yang tidak pernah membiarkan sejarah melupakan jasanya. Ia bukan sekadar pernah melayani. Ia memastikan bahwa semua orang tahu bahwa ia pernah melayani. Kalau sedang membicarakan kegiatan tahun ini, entah bagaimana percakapan bisa tiba-tiba berbelok ke tahun 2018. "Kalau dulu waktu saya yang pegang..." Kalau membicarakan kepanitiaan sekarang, tiba-tiba muncul cerita tentang kepanitiaan lima tahun lalu. "Zaman saya dulu, ini tidak begini." Kalau ada program baru, keluar kalimat klasik: "Ini sebenarnya dulu sudah pernah saya gagas." Kalau ada orang lain berhasil membuat sesuatu: "Konsep seperti itu sebenarnya saya sudah pernah lakukan." Kalau ada yang bertanya siapa yang mengerjakan: "Ya, dulu saya juga yang banyak turun tangan."

Lama-lama kita bertanya-tanya: ini rapat evaluasi atau pemutaran ulang film dokumenter kehidupan seorang aktivis Gereja? Tentu, orang tersebut mungkin memang berjasa. Sangat mungkin. Tetapi ada perbedaan antara mengingat sejarah dan menjadikan sejarah sebagai alat untuk terus mendapatkan posisi di masa kini. Yang satu adalah penghargaan terhadap pengalaman. Yang lain adalah semacam cicilan ego.

Di Gereja, ada satu fenomena menarik: semakin lama seseorang berada dalam pelayanan, kadang semakin sulit baginya membedakan antara "saya dibutuhkan" dan "saya ingin dibutuhkan." Padahal dua hal itu sangat berbeda. Orang yang dibutuhkan akan membantu ketika diperlukan. Orang yang ingin dibutuhkan akan menciptakan keadaan supaya dirinya terus diperlukan. Maka informasi disimpan, relasi dipelihara, akses dijaga, orang-orang tertentu didekati. Dan secara perlahan terbentuk sebuah jaringan yang sangat rapi. Namanya bukan mafia. Tentu saja bukan. Namanya "jejaring pelayanan." Kedengarannya jauh lebih Katolik.

Masalahnya menjadi menarik ketika jejaring pelayanan mulai bersinggungan dengan dunia bisnis. Sekali lagi, berbisnis bukan dosa. Menjadi pengusaha juga bukan dosa. Mendapat proyek secara profesional juga bukan dosa. Yang perlu dicurigai bukan bisnisnya. Yang perlu diperiksa adalah sumber keuntungannya.

Apakah karena kualitas? Apakah karena harga dan kompetensi? Apakah karena prosesnya transparan? Atau karena: "Oh, dia kan orang kita."

Kalimat "orang kita" adalah kalimat yang sangat sederhana. Tetapi kalau masuk ke dalam proses pengadaan, keputusan, rekomendasi, atau pembagian kesempatan, kalimat sederhana itu bisa menjadi sangat mahal. Apalagi kalau orang yang bersangkutan kebetulan mempunyai posisi strategis, mengenal banyak pengurus, mengetahui kebutuhan internal, dan memiliki akses kepada orang-orang yang mengambil keputusan.

Lalu ketika ditanya apakah pernah mendapat keuntungan dari Gereja: "Wah, saya tidak pernah mengambil apa-apa." Mungkin memang tidak pernah mengambil. Tetapi barangkali peluangnya yang datang sendiri.

Ada juga jenis kalimat yang sangat indah: "Saya ini melayani, bukan mencari keuntungan." Kalimat ini tentu patut dihormati. Tetapi akan lebih indah lagi kalau tidak perlu terlalu sering diucapkan. Sebab kalau seseorang memang tidak mencari keuntungan, biasanya ia tidak terlalu sibuk meyakinkan orang lain bahwa ia tidak mencari keuntungan.

Dalam tradisi Katolik, hati nurani bukan sekadar alat untuk menentukan apakah sesuatu "boleh" atau "tidak boleh". Hati nurani juga mengajak kita bertanya: "Apakah ini adil?" "Apakah ini pantas?" "Apakah orang lain mendapatkan kesempatan yang sama?" "Apakah saya menggunakan pelayanan untuk melayani, atau menggunakan pelayanan untuk memperluas kepentingan saya?"

Dan ada pertanyaan yang mungkin lebih sulit: "Kalau saya tidak mempunyai jabatan dan tidak mengenal siapa-siapa di Gereja, apakah saya masih mendapatkan kesempatan yang sama?" Nah. Di sinilah biasanya kita mulai ingin mengganti topik pembicaraan.

Sebab manusia mempunyai bakat luar biasa dalam membuat sesuatu yang menguntungkan dirinya terdengar seperti pengabdian. Kita menyebutnya "membantu umat", "mempermudah Gereja", "sudah berpengalaman", "supaya tidak merepotkan banyak orang", "saya cuma diminta", "kebetulan saya punya usaha di bidang itu".

Semua bisa benar. Tetapi semua juga bisa menjadi alasan yang sangat nyaman untuk tidak pernah bertanya kepada diri sendiri: "Apakah ada konflik kepentingan di sini?"

Dan tentu saja, Gereja bukan perusahaan. Pastor bukan CEO. Dewan pastoral bukan board of directors. Umat bukan pelanggan. Paroki bukan marketplace. Dan pelayanan bukan jalur khusus untuk mendapatkan proyek. Kalau semua hubungan di Gereja akhirnya dapat diterjemahkan menjadi: kenal → dipercaya → diberi akses → mendapat proyek → mendapat keuntungan, maka kita perlu berhenti sebentar. Bukan karena bisnisnya otomatis salah. Tetapi karena Gereja sedang berisiko berubah dari komunitas iman menjadi jaringan koneksi yang diberi salib di dinding.

Kalimat terakhir ini mungkin agak keras. Tetapi kadang cermin memang tidak dibuat untuk membuat kita nyaman.

Ada pula penyakit yang lebih halus: menganggap lama melayani sebagai lisensi moral. Karena sudah sepuluh tahun melayani, merasa boleh lebih didengar. Karena sudah lima belas tahun menjadi pengurus, merasa boleh menentukan. Karena pernah membawa banyak orang masuk ke kegiatan Gereja, merasa punya hak istimewa. Karena pernah menyumbang besar, merasa pendapatnya harus lebih besar. Padahal di hadapan altar, tidak ada kartu VIP.

Tidak ada jalur fast track menuju surga karena pernah menjadi ketua panitia. Tidak ada poin tambahan dalam Injil karena nama kita tercetak paling besar di spanduk. Dan sayangnya, tidak ada sakramen khusus bernama: Sakramen Pengakuan Jasa-Jasa Masa Lalu. Kalau ada, mungkin antreannya panjang.

Yesus punya cara yang sangat sederhana untuk membongkar ego semacam ini. Ia mengambil posisi seorang hamba. Bukan selebritas. Bukan pejabat. Bukan pemilik jaringan. Bukan orang yang sibuk memastikan semua orang tahu bahwa dirinya berjasa. Dan dalam Lukas 17:10, setelah seorang hamba melakukan tugasnya, Yesus mengajarkan sikap yang justru berlawanan dengan budaya "saya sudah melakukan banyak hal".

Intinya sederhana: Saya hanya melakukan apa yang menjadi tugas saya.

Betapa asingnya kalimat itu di zaman ketika hampir semua kebaikan membutuhkan dokumentasi. Mungkin karena itu, salah satu tanda pelayanan yang mulai dewasa justru adalah kemampuan untuk menghilang dari pusat perhatian.

Tidak harus menjadi ketua. Tidak harus disebut. Tidak harus difoto. Tidak harus dipuji. Tidak harus dilibatkan dalam semua keputusan. Tidak harus menjadi orang yang paling tahu. Tidak harus selalu menjadi orang yang terakhir bicara. Dan yang paling sulit: tidak harus memastikan orang lain tahu bahwa kita pernah berjasa. Sebab kalau pelayanan kita baru terasa berarti ketika nama kita disebut, mungkin yang kita cari bukan pelayanan. Mungkin kita sedang mencari pengakuan dengan menggunakan Tuhan sebagai latar belakang.

Pada akhirnya, setiap pelayan Gereja mungkin perlu melakukan audit. Bukan audit keuangan. Bukan audit program. Tetapi audit ego. Coba periksa:

  • Apakah saya kecewa ketika jasa saya tidak disebut?
  • Apakah saya merasa tersinggung ketika orang lain mendapat kepercayaan?
  • Apakah saya lebih senang melayani ketika ada orang penting yang melihat?
  • Apakah relasi pelayanan saya pernah berubah menjadi peluang ekonomi?
  • Apakah saya menggunakan kalimat "saya sudah lama melayani" untuk memenangkan perdebatan?
  • Apakah saya masih mau membantu kalau keputusan akhirnya bukan seperti yang saya inginkan?
  • Apakah saya bisa menyerahkan pekerjaan kepada orang lain tanpa merasa kehilangan identitas?
  • Apakah saya mampu berkata "terima kasih" kepada orang yang menggantikan saya?
  • Apakah saya tetap menjadi pelayan ketika tidak ada jabatan?

Dan pertanyaan terakhir: Kalau semua orang lupa apa yang pernah saya lakukan, apakah saya masih akan melakukan yang sama?

Kalau jawabannya iya, mungkin kita sudah mulai memahami pelayanan. Kalau jawabannya tidak... barangkali selama ini kita bukan sedang membangun Kerajaan Allah. Kita sedang membangun monumen kecil untuk diri sendiri, lalu kebetulan monumen itu dibangun di halaman Gereja. Dan mungkin itulah saatnya kita kembali kepada Injil. Bukan untuk bertanya: "Tuhan, kapan orang-orang akan menghargai saya?" Tetapi: "Tuhan, kapan saya akan cukup rendah hati sehingga tidak membutuhkan penghargaan itu lagi?" Karena pada akhirnya, nama yang paling penting dalam pelayanan bukan nama kita. Nama itu sudah tertulis di atas altar. Dan nama itu bukan nama kita.

Kristus.

(BS)