Berharga karena Baptisan, Bukan karena Logo Apel Grogotan

"Ma, temanku di sekolah semuanya pakai iPhone. Sepatu mereka minimal Nike atau New Balance. Aku malu, punyaku cuma merek pasar."

Kalimat seperti ini mungkin pernah mampir di ruang makan Anda, atau setidaknya tertahan di tenggorokan anak Anda yang tiba-tiba murung sepulang sekolah atau habis kumpul Misdinar. Di era ketika eksistensi diukur dari seberapa jernih kamera HP untuk mirror selfie dan seberapa mahal logo yang menempel di sepatu, anak-anak kita sedang bertempur di medan perang gengsi yang kejam.

Masalahnya, sebagai orang tua Katolik, kita sering kali gagap meresponsnya. Ada yang langsung menceramahi anak panjang lebar dengan ayat Kitab Suci sampai telinga mereka panas, ada pula yang justru ikut-ikutan panik lalu memaksakan diri berutang demi membelikan barang bermerek agar anaknya "tidak dikucilkan". Padahal, kedua respons itu sama-sama keliru.

Katedral Baru Bernama Mal dan TikTok

Mari bicara jujur: dunia hari ini mendidik anak kita untuk menyembah berhala baru bernama brand. Algoritma media sosial secara sistematis membisikkan doktrin sesat ke telinga remaja kita setiap detik: Kamu adalah apa yang kamu pakai. Kalau barangmu murah, kamu tidak layak dianggap ada.

Ketika anak merasa minder karena tidak punya gadget canggih atau sepatu ori jutaan rupiah, itu bukan semata-mata karena mereka kurang bersyukur. Itu karena mereka sedang menelan mentah-mentah standar dunia yang mengukur martabat manusia dari slip gaji orang tuanya.

Tetapi sebelum menyalahkan anak, mari kita berkaca di depan salib. Jangan-jangan, anak kita minder karena di rumah mereka juga melihat orang tuanya silau pada harta? Jangan-jangan kita sendiri masih suka menilai sesama umat di paroki dari mobil apa yang mereka parkir di halaman gereja, atau seberapa "bermerek" baju yang mereka pakai saat Misa Minggu? Anak adalah peniru ulung. Kalau iman kita sendiri masih kalah oleh gengsi sosial, jangan harap anak kita kebal terhadap peer pressure di sekolahnya.

Yesus Tidak Pakai Jubah Limited Edition

Iman Katolik sebenarnya punya jawaban yang sangat radikal—bahkan menampar—untuk urusan gengsi ini. Tuhan yang kita sembah memilih lahir di kandang domba yang bau, bukan di istana Romawi dengan fasilitas VIP. Yesus tumbuh sebagai anak tukang kayu sederhana dari Nazaret, sebuah kota kecil yang bahkan dipandang sebelah mata oleh orang-orang zamannya ("Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?").

Sepanjang hidup-Nya, Yesus tidak pernah mengandalkan atribut luar untuk menunjukkan kuasa-Nya. Martabat-Nya tidak turun sedikit pun meski Ia tidak memakai jubah limited edition buatan desainer Yerusalem. Justru di atas kayu salib—saat seluruh pakaian-Nya dilucuti dan diundi oleh para prajurit—kemuliaan dan kasih-Nya paling memancar.

Kepada anak-anak kita, kebenaran ini harus disampaikan dengan bahasa yang membumi: Nilai dirimu sudah dibayar lunas dengan darah Kristus, bukan dengan cicilan paylater. Ketika kamu dibaptis, kamu dimeteraikan sebagai anak Allah. Itu identitas paling high-end di alam semesta yang tidak bisa dibeli di gerai resmi mana pun.

Tiga Langkah Waras bagi Orang Tua dan Remaja Katolik

Agar iman tidak berhenti jadi slogan rohani di dinding kamar, ada tiga hal konkret yang perlu kita bangun di tengah keluarga:

  1. Validasi Perasaannya, Luruskan Cara Pandangnya Saat anak curhat merasa minder, jangan langsung dihakimi sebagai anak kurang iman. Peluk mereka dan akui bahwa menjadi berbeda di tengah teman-teman itu memang berat. Setelah hati mereka tenang, barulah ajak berdiskusi secara logis: "Teman yang hanya mau mendekatimu karena merek HP-mu, sebenarnya sedang berteman dengan HP-mu, bukan denganmu. Kamu mau punya teman seperti itu?"

  2. Bedakan Fungsi dan Gengsi Ajar anak konsep pengelolaan berkat (stewardship) sejak dini. Sepatu fungsinya melindungi kaki, HP fungsinya untuk komunikasi dan belajar. Selama fungsinya terpenuhi dengan baik, kita tidak perlu membayar lebih mahal hanya untuk membeli "pengakuan" dari orang lain yang bahkan tidak peduli pada masa depan kita.

  3. Bangun "Kekayaan" yang Tidak Bisa Dicuri Bantu anak menemukan rasa percaya diri dari hal-hal yang melekat pada karakter dan talenta mereka, bukan benda mati. Dorong mereka aktif berorganisasi, mengasah keahlian musik, olahraga, akademik, atau pelayanan di gereja. Anak yang tahu dirinya kompeten, punya empati, dan dicintai tanpa syarat di rumahnya, tidak akan mudah goyah hanya karena layar HP-nya bukan keluaran terbaru.

Pada akhirnya, barang bermerek akan usang, seri gadget terbaru tahun ini akan menjadi rongsokan tiga tahun lagi. Jangan biarkan anak-anak kita menggadaikan harga dirinya yang abadi di mata Tuhan hanya demi sepotong pengakuan semu yang umurnya lebih pendek dari masa garansi pabrik. (RB)