Amin Paling Tajam di Grup WA

Ada satu tempat dalam kehidupan menggereja yang belakangan ini tampaknya lebih sibuk daripada sekretariat paroki, lebih ramai daripada rapat lingkungan, dan kadang-kadang lebih panas daripada ruang sidang: grup WhatsApp.

Di sana, segala sesuatu bisa terjadi. Pengumuman misa disampaikan, jadwal pelayanan dibagikan, koordinasi kegiatan dilakukan, foto-foto acara diunggah, dan tentu saja, konflik dipelihara dengan sangat tekun. Sebab, kalau dahulu orang harus bertemu langsung untuk bertengkar, sekarang cukup mengetik beberapa kalimat, menambahkan satu emoji, lalu membiarkan puluhan orang menafsirkan maksudnya masing-masing.

Grup WhatsApp komunitas Katolik memang diciptakan untuk mempermudah komunikasi. Sayangnya, dalam praktiknya, ia juga menjadi tempat yang sangat efektif untuk mempersulit persaudaraan.

Perang yang Tidak Pernah Dideklarasikan

Di dalam grup, tidak semua konflik muncul dalam bentuk pertengkaran terbuka. Justru yang paling menarik adalah konflik yang tidak pernah secara resmi diumumkan, tetapi semua orang tahu sedang berlangsung.

Seseorang mengirim pesan, "Mohon diperhatikan, ya, supaya ke depannya tidak terulang lagi." Tidak ada nama yang disebut. Tidak ada orang yang ditandai. Namun, entah mengapa, tiga orang langsung merasa sedang disindir. Lima orang lainnya mulai menerka-nerka siapa yang dimaksud. Sisanya memilih diam sambil menunggu episode berikutnya.

Ada pula kalimat legendaris, "Kalau memang merasa, silakan introspeksi." Sebuah kalimat yang luar biasa praktis. Tidak perlu menyebut nama, tidak perlu bertanggung jawab atas tuduhan, dan tidak perlu repot-repot menyelesaikan masalah. Cukup lempar batu, sembunyikan tangan, lalu tutup dengan kata-kata rohani.

Kadang-kadang, konflik bahkan dimulai dari hal yang sangat sederhana: pesan yang tidak dibalas, usulan yang tidak ditanggapi, atau keputusan yang tidak sesuai keinginan. Dalam hitungan menit, persoalan teknis berubah menjadi persoalan harga diri. Yang semula hanya membicarakan jadwal pelayanan, tiba-tiba menjadi pembahasan tentang penghargaan, senioritas, loyalitas, dan siapa sebenarnya yang paling berjasa dalam komunitas.

Ternyata, jari-jari kita bisa begitu cepat mengetik kata persaudaraan, tetapi begitu lambat mempraktikkannya.

Silent Treatment: Ketika Diam Menjadi Senjata

Ada satu fenomena menarik dalam grup WhatsApp: diam.

Tentu saja, tidak semua orang wajib membalas setiap pesan. Ada yang sibuk bekerja, ada yang sedang beristirahat, ada yang memang tidak suka banyak bicara. Itu wajar. Namun, ada jenis diam yang berbeda. Diam yang disengaja agar orang lain merasa bersalah. Diam yang dipakai sebagai hukuman. Diam yang ingin menyampaikan pesan, "Saya kecewa, dan kalian harus tahu itu."

Pesan pengumuman dibaca, tetapi tidak ada respons. Permintaan konfirmasi dibiarkan menggantung. Ketika orang tertentu mengirim sesuatu, mendadak seluruh anggota grup kehilangan kemampuan mengetik. Namun, ketika orang lain mengirim pesan, respons berdatangan seperti hujan berkat.

Inilah silent treatment versi pelayanan: tidak perlu keluar dari grup, tidak perlu mengundurkan diri, cukup hadir secara digital tetapi absen secara emosional.

Lebih lucu lagi, beberapa orang menggunakan fitur keluar grup sebagai pernyataan politik. Keluar dari grup bukan karena nomor telepon berganti atau ruang penyimpanan penuh, melainkan sebagai bentuk protes yang diharapkan segera disadari seluruh anggota. Setelah itu, biasanya ada seseorang yang menghubungi secara pribadi, menanyakan alasan, dan terjadilah percakapan panjang yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan satu pembicaraan jujur sejak awal.

Kita sering lupa bahwa diam memang bisa menjadi kebijaksanaan, tetapi diam untuk menghukum orang lain bukanlah kebijaksanaan. Itu hanya kemarahan yang sedang menyamar.

Perang Emoji dan Tafsir Kenabian

Kalau ada satu hal yang paling menarik dari komunikasi digital, itu adalah kemampuan manusia membaca makna tersembunyi dari sebuah emoji.

Seseorang mengirim pengumuman kegiatan. Dibalas dengan jempol. Selesai? Belum tentu. Ada yang menganggap jempol itu bentuk dukungan. Ada yang merasa itu jawaban dingin. Ada pula yang bertanya-tanya mengapa orang lain mendapat balasan dua jempol, sementara dirinya hanya satu.

Kemudian ada emoji senyum. Apakah itu tanda keramahan, sindiran, atau senyum orang yang sebenarnya sedang menahan amarah? Tidak ada yang tahu. Tetapi para ahli tafsir grup WhatsApp biasanya punya kesimpulan masing-masing.

Emoji tertawa bisa dianggap meremehkan. Emoji berdoa bisa dianggap menyindir. Bahkan stiker "amin" pun kadang-kadang dicurigai sebagai bentuk persetujuan pasif-agresif terhadap pesan yang baru saja dikirim seseorang.

Kita hidup di zaman ketika satu gambar kecil bisa memicu rapat evaluasi yang panjang. Kalau dahulu orang membutuhkan surat resmi untuk menyampaikan keberatan, sekarang cukup mengirim stiker yang tepat pada waktu yang tepat.

Ironisnya, kita bisa begitu teliti menafsirkan emoji orang lain, tetapi begitu malas menanyakan langsung apa yang sebenarnya mereka maksud.

Grup Pelayanan, Bukan Ruang Pengadilan

Persoalannya bukan terletak pada WhatsApp. Teknologi hanyalah alat. Persoalan sesungguhnya adalah karakter manusia yang ikut masuk ke dalam grup tersebut.

Kita membawa ego, kekecewaan, persaingan, luka lama, dan kebutuhan untuk diakui ke dalam sebuah ruang komunikasi yang seharusnya membantu kita melayani. Akibatnya, setiap pesan bisa menjadi ancaman, setiap koreksi terasa seperti serangan, dan setiap keputusan yang tidak sesuai keinginan dianggap sebagai bukti bahwa kita tidak dihargai.

Ada yang merasa dirinya paling senior sehingga pendapatnya harus selalu didengar. Ada yang merasa paling sibuk sehingga berhak menentukan arah pembicaraan. Ada yang merasa paling banyak berkorban sehingga tidak boleh dikritik. Ada pula yang diam-diam menikmati konflik karena merasa dirinya menjadi tempat curhat semua pihak.

Grup yang seharusnya menjadi sarana koordinasi akhirnya berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim. Setiap orang menjadi jaksa, setiap orang punya bukti berupa tangkapan layar, dan setiap orang merasa dirinya korban.

Yang paling menyedihkan, semuanya dilakukan atas nama pelayanan Gereja.

Kita lupa bahwa pelayanan bukan kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling penting. Tidak ada medali untuk orang yang paling banyak mengirim pesan, paling sering mengingatkan, atau paling lama bertahan dalam grup. Gereja tidak membutuhkan pelayan yang selalu menang dalam perdebatan digital. Gereja membutuhkan orang-orang yang mampu membangun persekutuan.

Santo Paulus Tidak Pernah Menggunakan Fitur Reply All

Dalam Surat kepada Jemaat di Efesus, Santo Paulus mengingatkan agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah, serta saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni kita dalam Kristus (Efesus 4:31-32).

Nasihat ini terasa sangat relevan untuk kehidupan komunitas zaman sekarang. Sebab, kepahitan tidak selalu muncul dalam bentuk teriakan. Kadang-kadang ia hadir dalam kalimat pendek yang sengaja dibuat tajam. Kemarahan tidak selalu ditunjukkan dengan membanting meja. Kadang-kadang cukup dengan tidak membalas pesan selama tiga hari. Fitnah tidak selalu disampaikan dari mulut ke mulut. Kadang-kadang ia dimulai dengan meneruskan tangkapan layar percakapan pribadi ke grup lain, lengkap dengan komentar, "Saya hanya ingin meluruskan."

Kita tentu boleh berbeda pendapat. Kita boleh mengkritik keputusan, menolak usulan, dan menyampaikan ketidaksetujuan. Persaudaraan Kristiani bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Tetapi cara kita berbeda pendapat juga merupakan bagian dari kesaksian iman.

Kalau kita berani mengoreksi orang lain di grup, seharusnya kita juga berani menyampaikan koreksi secara pribadi dengan kasih. Kalau kita kecewa, seharusnya kita berani berbicara jujur, bukan membangun teka-teki yang harus dipecahkan seluruh anggota grup. Dan kalau kita memang bersalah, tidak ada salahnya mengetik dua kata yang sangat sederhana: "Saya minta maaf."

Kalimat itu mungkin tidak sepanjang renungan harian, tetapi kadang-kadang jauh lebih Kristiani daripada sepuluh paragraf pembelaan diri.

Sebelum Menekan Tombol Kirim

Mungkin kita perlu membiasakan diri melakukan sedikit pemeriksaan batin sebelum mengirim pesan ke grup komunitas. Apakah pesan ini benar-benar diperlukan? Apakah tujuannya menyelesaikan masalah atau sekadar melampiaskan kekesalan? Apakah saya berani mengatakan hal yang sama jika orang yang saya sindir sedang duduk tepat di depan saya?

Dan satu pertanyaan yang mungkin paling penting: apakah pesan ini membantu membangun Gereja, atau justru sedang membangun panggung bagi ego saya sendiri?

Tidak semua hal perlu dibalas. Tidak semua sindiran perlu ditanggapi. Tidak semua perbedaan pendapat harus dimenangkan. Terkadang, kebijaksanaan terbesar adalah menunda mengirim pesan sampai emosi mereda. Jika persoalannya serius, bicarakan secara langsung. Jika menyangkut nama baik seseorang, jangan jadikan grup sebagai tempat mengadili. Jika memang ada kesalahan, koreksilah dengan niat memulihkan, bukan mempermalukan.

Kita juga perlu ingat bahwa orang-orang di dalam grup bukan sekadar nomor telepon, foto profil, atau nama kontak. Mereka adalah saudara seiman yang memiliki perasaan, pergumulan, keterbatasan, dan martabat yang sama dengan kita.

Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita mengevaluasi kembali cara kita menggunakan grup WhatsApp komunitas. Jangan sampai kita begitu rajin mengirimkan ayat Kitab Suci, tetapi lupa menghidupinya dalam percakapan sehari-hari. Jangan sampai kita paling cepat membagikan undangan misa, tetapi paling lambat berdamai dengan sesama.

Sebab, tidak ada gunanya grup komunitas memiliki ratusan anggota jika persaudaraan di dalamnya hanya tinggal formalitas.

Dan kalau suatu hari nanti grup pelayanan kita benar-benar menjadi tempat yang penuh kasih, mungkin itu bukan karena semua orang akhirnya sepakat, bukan pula karena tidak ada lagi perbedaan pendapat.

Melainkan karena kita akhirnya belajar bahwa menjadi saudara dalam Kristus jauh lebih penting daripada menjadi orang yang selalu mendapat pesan terakhir.

Sebab, tujuan akhir pelayanan bukanlah menjadi admin grup yang paling dihormati, melainkan menjadi murid Kristus yang sungguh-sungguh mengasihi.

Amin. (Dan kali ini, semoga bukan sekadar emoji.)

(CG)