BERTOBAT ITU SULIT, TAPI PERLU

(Matius 1:1-8) - Minggu Adven II Tahun B/II
10 Desember 2017

Setiap kali mempersiapkan diri untuk menyambut hari raya Natal atau hari raya paskah kita senantiasa diajak merenungkan tema pertobatan. Tak jarang banyak orang lantas merasa enggan. Masak, setiap ke gereja kok selalu diajak bertobat. Memangnya kita ini harus hidup bagaimana? Begitu ungkapan yang kita  dengar dari beberapa teman kita.

Enggannya orang menjalani pertobatan juga dapat kita lihat dari sepinya ruang pengakuan di gereja-gereja Katolik saat disediakan kesempatan untuk menerima sakramen pengakuan dosa. Mengaku dosa kan bisa langsung kepada Tuhan. Begitu kira-kira pembenaran diri yang sering kita dengarkan. Memang mengaku dosa bisa kita lakukan secara langsung kepada Tuhan, namun apakah orang benar-benar mengaku dosa secara langsung kepada Tuhan dengan mengungkapkan kesalahannya seperti pada saat mengaku dosa? Memang hanya Tuhan dan orang itu sendiri yang mengetahui.

Bertobat itu memang tidak mengenakan. Karena orang harus melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri; ibarat orang tak tahan bercermin untuk melihat keburukan wajahnya sendiri, demikian juga manusia sering tak tahan melihat keburukan dalam dirinya sendiri.

Meskipun sulit dan seringkali enggan untuk melakukannya, namun pertobatan perlu dilakukan oleh semua manusia agar dapat menikmati keselamatan. Pertobatan itu bukan hanya masalah mengatakan dan mengakui kekurangan diri sendiri. Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang terwujud dalam hidup sehari-hari. Jadi pertobatan bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam tindakan.Yohanes Pembaptis melalui bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan pentingnya pertobatan yang sungguh terwujud dalam kehidupan sehari-hari: maka hasikanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Masa adven adalah masa kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Namun hanya orang-orang yang sudah memperpantas diri dengan pertobatan sejati saja yang mau menantikan kedatangan Tuhan. Orang yang tidak mau bertobat, takut kalau Tuhan datang.

Saat seseorang memutuskan diri untuk bertobat, pada saat itulah ia sesungguhnya sedang dikaruniai oleh Tuhan suatu kebajikan rohani. Dari kedalaman hati, ia datang menyambut rahmat pengampunan Tuhan yang penuh kuasa. Pada saat itu, hatinya sedang membuka diri dengan kepasrahan penuh seperti seorang anak kecil yang siap untuk menerima dari Tuhan: karunia  kedamaian ke dalam hatinya. Karunia pengampunan Tuhan itu sungguh penuh kuasa. Pengampunan Tuhan itu  melepaskan seseorang dari aneka tekanan kecemasan dan kecacauan yang merenggut kedamaian hatinya. Kuasa pengampunan Tuhan membuat hidup seseorang lebih diwarnai oleh ketenangan diri, semangat baru, komitmen hidup baru untuk menjadi pengikut Yesus yang makin didewasakan. Hari-hari hidupnya pun lebih mudah bersyukur; ia menjadi lebih sering menyadari berkat penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Perjalanan hidup kristianinya pun makin bertumbuh karena bimbingan Tuhan. Tuhan memberkati. (RDHSW)

Comments

Popular Posts