SABDA ALLAH DALAM KELOMPOK DAN KOMUNITAS

Oleh: Yohanes Moeljono
(Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Paroki MBSB Edisi September 2017)


Pada tanggal 11 November 2010 yang lalu, Paus Benediktus XVI mengeluarkan Exortasi atau seruan Apostolik Post-Sinodal VERBUM DOMINI (Sabda Tuhan). Dokumen Vatikan ini merupakan hasil Sinode XII para uskup di Roma, yang diadakan Oktober 2008, dengan tema : FIRMAN ALLAH DALAM HIDUP DAN MISI GEREJA. Dokumen VERBUM DOMINI ini terdiri dari tiga bagian : Verbum Dei = Sabda Allah; Verbum in Ecclesia = Sabda Allah dalam Gereja ; dan Verbum pro Mundo = Sabda Allah bagi dunia. Ketiga bagian ini mau mengatakan: Sabda Allah itu menunjuk kepada seseorang pribadi, yakni Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang oleh FirmanNya Gereja lahir dan hidup, menjalin keakraban dan keintiman dengan dan bersama Dia, dan oleh FirmanNya juga Ia mengutus Gereja (umat Allah yang percaya) untuk mewartakan dan menghidupi Sabda Allah  dalam dunia, di tengah kehidupan sehari-hari dalam dunia.

Tulisan ini tidak membahas artiVerbum in Ecclesia;tetapi mengambil inspirasi dari thema kehadiran Sabda Allah dalam Gereja terutama didalam kelompok dan komunitas.

Esensi Sabda Allah

Kita memulai tulisan sederhana ini dengan pengertian sederhana dari arti Sabda atau Firman Allah. Sabda merupakan bagian dari hakikat Allah. “ Pada Mulanya Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).
Sabda Allah adalah Allah itu sendiri. Itulah Hakikat sejati-Nya yang keluar dari Diri-Nya sendiri. Sabda yang sudah ada sebelum kisah penciptaan itu ada, Dia adalah Alpha dan Omega yang berkuasa, berkreasi merancang, membuat dan menopang seluruh ciptaan di alam semesta, dan memiliki kuasa memberikan kehidupan baru serta menyalurkan kasih karunia kepada semua ciptaannya.

SabdaNya adalah Putera-Nya yang Terkasih, kehidupan dari kehidupan-Nya sendiri yang kudus dan suci. “karena didalam Dialah telah diciptakan segala seseatu yang ada di Sorgadan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan” (Kol 1:16)
Jadi sangatlah jelas sekarang bahwa Sabda adalah hakikat inti Allah Bapa itu sendiri yang menjelma menjadi manusia sebagai Juru selamat dan Hakim Agung yang suci dan agung untuk manusia.

Sabda Tuhan yang sama itulah yang kita baca dalam kitab suci atau alkitab kita sehari hari. Kita dapat melihat bahwa sesungguhnya seluruh kitab suci adalah suatu tafsiran dari Sabda Tunggal Allah itu sendiri, yang tak lain adalah Putera-Nya Yesus Kristus. Dialah yang kita temui lewat Sabda, bahkan bagi mereka yang tidak mengenal-Nya, Dia sendiri lewat kuasa-Nya yang secara rahasia memperkenalkan diri-Nya secara lembut.

Manusia Milik Sang Sabda
Tidak jarang, Alkitab tidak ubahnya sebagai pelengkap dan pemanis saja. Mulus bentuknya hanya jadi pajangan di lemari hiasan. Bahkan berdebu karena dibuka pun jarang. Dibacakan juga, mungkin pada saat-saat tertentu saja. Atau dibacakan jika tuan rumah diminta menjadi pembaca di pendalaman kitab suci dan kebaktian rumah tangga. Atau bahkan ada yang lebih ekstrim, hanya dijadikan semacam jimat, ditaruh di dekat orang yang meninggal didalam peti mati, apakah maksudnya supaya kuasa jahat tidak berani mendekat?! Tidak ada yang mengerti. Mestinya selagi hidup diberikan Alkitab supaya mengenaldan belajar tentang Jalan kebenaran, kehidupan, dan keselamatan, bukan setelah jadi mayat baru didekatkan sama Alkitab. Itu terlambat! Sebuah perbuatan sia-sia yang sama sekali tidak bermanfaat.

Hal-hal tersebut yang seperti diatas bisa dihindari apabila kita mengerti dan sadar betapa pentingnya sabda Tuhan dalam kehidupan kita. Bagaimana Sabda Tuhan itu bisa mentransformasikan kehidupan kita menjadi lebih benar dan sempurna.Menjadi manusia baru bertransformasi dari manusia lama kita, yang penuh dengan kesalahan dan dosa.Mari kita lihat apa yang dikatakan rasul Paulus: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2Tim 3:16-17)

Sabda Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan dengan tegas kesalahan-kesalahan dan dosa kita, sehingga menyadarkan kita dan memandu kita tentang pengertian Ilahi untuk memperbaiki serta mentransformasikan diri kembali kedalam jalan kebenaran, yang pada akhirnya akan berbuah benar dan baik sesuai perbuatan baik yang dihasilkan dari perubahan transformasi tersebut.
 

Sehingga dengan pengertian seperti ini, kita akan selalu rindu dan haus akan membaca sabda Tuhan yang membawa kita kedalam pengertian – pengertian yang baru, membimbing dan memandu kita dalam membuat keputusan dalam kehidupan, memberikan keyakinan akan kuasa Doa, terlebih sabda sabda yang didoakan, dan memberikan kekuatan untuk selalu setia dan taat menjalani semua perintah-perintahNya yang akhirnya membawa damai sukacita dalam jiwa kita.

Pada akhirnya kita dengan segala kerendahan hati masuk kedalam pengertian dan keluar dari lubuk hati yang terdalam bisa bersyukur dan berkata : “Aku milikMU Tuhan, Aku milik SabdaMu Tuhan”,  aku tak sanggup menjalani kehidupan ini tanpa sabdaMU, SabdaMu adalah terang dan jalanku, bimbinglah aku agar bisa mengerti hadiratMU lewat sabda-sabdaMu, sehingga akhirnya sempurna seperti “Aku didalam Sabda, dan Sabda didalam aku”.

Menghadirkan Sabda dalam Kelompok atau komunitas

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”


Kalimat diatas dikenal banyak orang, menurut kitab kejadian (2:18), kalimat itu diucapkan Allah sendiri setelah Ia menyadari bahwa Adam membutuhkan seorang “Penolong”. Sejak dulu sampai sekarang, kalimat dari kitab kejadian itu dikutip sebagai semacam bukti bahwa Allah sendiri menghendaki agar manusia hidup berkeluarga. Tetapi sabda Tuhan ini tidak boleh dibatasi pada bidang perkawinan saja, Maknanya sangat luas dan kebenarannya menyangkut segala dimensi hidup duniawi, terutama dalam kehidupan menggereja, berkelompok dan komunitas.

Manusia membutuhkan manusia lain untuk bertumbuh dan berkembang dengan semestinya. Demikian juga didalam Iman, Manusia perlu menjalin hubungan dengan pribadi-pribadi lain dan hal ini secara khusus berlaku bagi semua pengikut Kristus. Mereka seharusnya hidup dalam kebersamaan persekutuan  didalam kelompok dan komunitas. Itulah arti luhur kata Gereja, tidak ada Gereja bila tidak ada kebersamaan dan persekutuan, yang secara nyata menyatakan relasi kasih Tuhan.

Kelompok dan gereja

Perkembangan terjadi juga dikalangan umat beragama, manusia beriman masa kini semakin sadar akan pentingnya komunikasi supaya berwawasan luas dan terbuka, saling mengenal kekayaan spiritual, saling menyemangati dan mendukung, agar lebih kuat menghadapi masa depan yang tidak menentu dan lebih mudah memecahkan masalah-masalah secara bersama kelompok atau komunitas.

Dalam kenyataan historisnya, berkelompok dan berkomunitas merupakan salah satu ciri yang sangat menonjol dalam Karya Yesus semasa hidup-Nya. Ia sendiri yang memimpin sebuah kelompok khusus yang beranggotakan 12 orang murid. Ia melatih mereka agar kelak dapat meneruskan karya-Nya. Ia mengutus mereka berdua dua, dan secara terus menerus mengajarkan para murid-Nya hidup dalam persekutuan kasih.

Hal ini bisa kita pelajari juga dari gereja masa masa awal yang berkembang karena ibadah bersama dan persekutuan kelompok-kelompok kecil. Lukas menggambarkan keadaan masa awal itu dalam Kisah para Rasul, antara lain dengan menulis “Dengan tekun mereka belajar terus dari para rasul dan selalu berkumpul bersama –sama dalam persekutuan , setiap hari berkumpul di bait Allah, memecahkan roti dirumah masing-masing secara bergilir dan berdoa….” (Kis2:42;46)

Komunitas umat perdana selalu berkumpul dalam persekutuan kelompok yang menghidupi sang Sabda dan tradisi didalam kehidupan mereka sehari – hari, sehingga akhirnya perkembangan iman mereka melaju sangat cepat dan jumlah umat meningkat drastis. Kitab Suci pun lahir dalam komunitas Umat Perdana, dan sejak semula Kitab Suci dibacakan dalam rangka kehidupan umat. Sehingga pada masa sekarang pun Kitab Suci perlu dan wajib dibacakan dalam komunitas umat beriman dan Sabda Allah didengarkan oleh seluruh umat. Gereja awal dapat meluas dengan cepat dan kuat mendasar disebabkan kepandaian umat perdana bekerja sama dan berkelompok/berkomunitas.

Komunitas terkecil dalam Gereja adalah keluarga, maka Kitab Suci juga harus dibaca dalam keluarga.Keluarga adalah sel Gereja sehingga pembinaan iman di dalamnya perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Keluarga merupakan sekolah kehidupan bagi anak-anaknya sehingga orang-tua bertanggung jawab untuk mendidik anak tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang beriman. Sebagai buku dan sumber iman, Alkitab menjadi sarana utama dalam pembinaan iman di dalam keluarga.

Sekarang berbagai macam kelompok dan komunitas rohani pun bermunculan, berbagai macam kelompok kategorial dalam gereja berkembang secara cepat dan pesat.Disatu sisi hal ini merupakan hal yang menggembirakan sebagai kekayaan gereja, tetapi disisi lain masih dipertanyakan tidak semua komunitas menggali identitas katolik secara murni yang didasari oleh 3 pilar utama yaitu : Kitab suci, Tradisi suci, dan Magisterium. Menjadi pertanyaan juga mengapa masih belum banyak kelompok dan komunitas yang secara khusus membahas dan mempelajari sang Sabda atau kitab suci,tradisi dan magisterium itu sendiri? Padahal inti dasar dan fondasi yang utama dari kelompok dan komunitas seharusnyamenghadirkan kuasa Sang Sabda ditengah-tengah kelompok atau komunitas itu sendiri.

Didasari oleh pengertian inti bahwa Sabda adalah Allah itu sendiri, dan manusia milik Sang Sabda. Menjadi sangat ironis sekali apabila justru banyak orang katolik malah meninggalkan alkitabnya tidak disentuh dan dibaca. Membaca kitab suci seharusnya merupakan sebuah kebutuhan rohani yang utama, bukan lagi sebuah beban, karena Sabda itulah yang memberikan Jalan keselamatan, kebenaran dan kehidupan itu sendiri.  Sehingga sekarang sudah banyak timbul kerinduan para anggota kelompok atau komunitas untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam (Duc in Altum),untuk mengenal lebih dekat lagi sang Sabda itu. Kerinduan belajar mendalami kitab suci secara lebih dalam dan intens.

Seharusnya gerakan Roh Kudus ini bisa difasilitasi dengan dibentuknya kelompok atau komunitas yang khusus membahas kitab suci, tradisi-tradisi suci, dan magisterium secara lebih specifik, misalnya seperti:

  1. Kelompok Studi Kitab Suci.
  2. Kelompok Sharing Kitab Suci.
  3. Kelompok Pelayanan Kitab Suci ( Orang sakit, Lansia, Narapidana, orang-orang terbuang)
  4. Kelompok Pemuridan
Komunitas kitab suci ini juga bisa menjadi sebuah jawaban ketika Di banyak tempat umat Katolik tidak memperoleh pelayanan yang memadai dari para gembalanya. Ini terjadi karena jumlah gembala yang terlalu sedikit bila dibandingkan dengan jumlah umatnya. Umat yang berada dalam situasi seperti ini jelas tidak dapat mengharapkan pelayanan yang memadai dari para gembala. Mencegah banyak orang yang kemudian menjadi kecewa lalu meninggalkan Gereja Katolik.

Komunitas kitab suci juga membantu umat Katolik yang harus berhadapan dengan berbagai persoalan hidup. Dalam pertemuan komunitas bersama, umat dapat bersama-sama melihat kenyataan hidup dalam terang Sabda Allah. Dengan demikian, dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai kenyataan hidup ini.

Maka tulisan ini dibuat dengan harapan dan ajakan kepada umat Katolik untuk dapat melakukan hal yang sama: secara bersama-sama berkumpul membaca, membahas Kitab Suci secara lebih mendalam dan membiarkan Allah membina kita melalui terang Sabda-Nya di dalam berkelompok dan berkomunitas. (YM)

Comments

Popular Posts