KEPEDULIAN KEPADA KAUM MISKIN, LEMAH DAN DIFABEL

Oleh: RD. Yohanes Suradi
(Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Paroki MBSB Edisi Juli 2017)


Istilah Kaum Miskin, Lemah dan Difabel

Secara garis besar batasan kaum miskin adalah mereka yang secara ekonomi berada dalam garis kemiskinan, untuk bisa makan seadanyapun harus diperoleh dengan susah payah. Kaum miskin hidupnya sangat tergantung pada orang lain. Penyebab dari kemiskinan biasanya disebabkan karena tidak adanya kesempatan kerja. Tidak adanya kesempatan kerja bisa disebabkan oleh usia yang sudah tidak produktif, tetapi mungkin juga karena keterbatasan fisik yang menjadikan seseorang tidak memungkinkan melakukan pekerjaan. Dengan kata lain batasan tentang kaum miskin adalah mereka-mereka yang tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk menopang kehidupan, baik dirinya sendiri apalagi anggota keluarganya.

Kaum lemah adalah mereka-mereka secara usia sebenarnya usia produktif untuk bekerja, tetapi karena secara fisik tidak memungkinkan untuk bekaerja membuat mereka tidak bisa bekerja. Dalam Kitab Suci kategori kaum lemah adalah mereka yang karena kesendiriannya, membuat mereka tersingkir dari masyarakat.  Kaum lemah belum tentu mereka itu miskin, karena banyak juga yang meski mengalami keterbatasan fisik, mereka masih mampu untuk  bekerja, bahkan mengendalikan usaha. Banyak diantara mereka yang memiliki intelektual, daya berpikir yang cemerlang sehingga menghasilkan penghasilan yang cukup bahkan bisa lebih untuk menopang kehidupan dirinya maupun orang lain. Dengan kata lain kaum lemah adalah mereka yang tersingkir atau kurang mendapat perhatian dari masyarakat pada umumnya, misalnya orang sakit, para lansia, janda/duda atau single parent yang sudah tidak berumur produktif.

Kaum difabel adalah mereka-mereka yang secara mental / kejiwaan mengalami keterbatasan sehingga menyebabkan secara fisik sangat terbatas pula. Kata difabel sebenarnya istilah yang lebih halus / sopan dari keterbatasan mental, sehingga kata itu lebih diartikan sebagai “mereka yang berkebutuhan khusus”, sekalipun berumur dewasa tetapi sangat tergantung pada orng lain. Istilah ini sebenarnya mau membedakan dengan mereka yang sakit jiwa  yang lebih diidentikkan dengan orang gila atau mengalami gangguan jiwa. Difabel tidak mengalami gangguan jiwa, tetapi secara mental mengalami keterbatasan. Misalnya, orang bisu, tuli sejak lahir adalah golongan mereka yang difabel dan mereka bukan orang yang sakit jiwa. Orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik itulah sebenarnya yang dinamakan difabel, membutuhkan pendampingan khusus dalam segala bidang. Difabel juga kurang tepat kalau diartikan sebagai mereka yang memiliki kelainan, karena istilah ‘kelainan’ lebih mengarah pada kecenderungan seksual yang tidak wajar. Mereka kaum difabel juga tidak berkenan kalau disebut ‘abnormal’, karena mereka bukan orang yang sakit jiwa. Dengan kata lain kaum difabel adalah mereka-mereka secara mental mengalami kelainan, entah sejak lahir  ataupun disebabkan karena sakit berat yang pernah dideritanya.

Bagaimana Gereja Berpastoral Terhadap Mereka?

Sejak awal berdirinya Gereja, Yesus berpesan agar Gereja memberikan perhatian khusus kepada kaum miskin, lemah dan tersingkir. Janda-janda adalah gambaran kelompok masyarakat yang lemah dan memiliki keterbatasan ekonomi. Bahkan ketika para rasul sibuk dengan pewartaan atau pelayanan Sabda ehingga pelayanan terhadap kaum lemah dan miskin terabaikan, diangkatlah beberapa orang sebagai diakon untuk tugas-tugas pelayanan terhadap mereka.

Tradisi para rasul, Gereja perdana diteruskan oleh para uskup sebagai sebuah seruan yang terus menerus digemakan. Paus sebagai pengganti Rasul Santo Petrus dalam seruan-seruan pastoralnya melalui Ajaran Sosial Gereja, dekrit-dekrit Konsili Vatikan II, banyak sekali keputusan pastoral yang mengajak seluruh Gereja untuk memberikan perhatian terhadap kaum miskin. Option for the poor menjadi seperti semangat ajakan untuk melayani mereka dengan penuh sukacita. Ensiklik-ensiklik Paus, sejak Santo Petrus Paus pertama maupun  pengganti Santo Petrus hingga Paus Fransiskus sekarang, gema pelayanan terhadap kaum miskin, lemah dan difabel tidak pernah lepas dari seruan pastoral kuasa mengajar Gereja.

Tanpa harus mengutip ayat-ayat Kitab Suci, hasil sidang para uskup, ensiklik maupun dekrit kuasa mengajar tersebut merupakan eksegese, wujud nyata pesan Kitab Suci sebagai dasar utama penentuan kebijakan pastoral Gereja. Pesan-pesan pastoral para uskup terhadap umat diseluruh wilayah gerejawinya juga tidak pernah mengabaikan seruan perhatian terhadap kaum miskin, lemah dan difabel ini. Hampir di setiap keuskupan perhatian-perhatian khusus terhadap kaum miskin, lemah dan difabel selalu dilakukan. Para pastor paroki sebagai perpanjangan tangan uskup, pimpinan Gereja lokal, entah melalui misa khusus, kunjungan pastoral, pembentukan kelompok kategorial tentang kaum-kaum tersebut, studi bersama para aktivis lingkungan bermaksud memberikan juga perhatian secara istimewa terhadap kaum yang rata-rata tidak menjadi pokok perhatian umat di lingkungannya.


Belajar dari keteladanan para kudus, Santo-Santa yang kalau kita baca riwayat hidupnya, banyak diantara mereka yang memiliki pengalaman istimewa akan perhatian secara khusus terhadap kaum miskin, lemah dan difabel ini. Contoh-contoh seperti Santo Fransiskus dari Asisi yang mampu menemukan Yesus dalam diri pengemis yang kedinginan, ketika ia dengan penuh sukacita membagikan separuh dari mantol yang dipakainya, tanpa diduga bahwa pengemis gembel tersebut ternyata Tuhan Yesus sendiri. Bagaimana ingatan kita terhadap Mother Theresa, suster dari Calcuta India yang menjadikan kaum miskin, lemah dan difabel karena sakit,  cacat sejak lahir maupun karena kejadian alam sebagai sahabat-sahabat dekat hingga akhir hayatnya. Perhatian ikhusus kepada kaum miskin, lemah dan difabel ini justru mengangkatnya menjadi orang kudus.

Siapa Sesungguhnya Gereja Pemerhati Kaum Miskin, Lemah dan Difabel ini?

Arti Gereja bukan sekedar tempat untuk beribadah, melainkan juga berarti kumpulan umat beriman akan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamatnya. Pesan pastoral Gereja bahwa Gereja harus memberikan perhatian khusus kepada kaum miskin, lemah dan difabel berarti sebuah ajakan untuk seluruh umat katolik, umat beriman akan yesus Kristus. Kaum lemah itu adalah sesama kita juga, saudara kita yang perlu mendapatkan sapaan, entah bagaimanapun caranya.

Sebagaimana Yesus yang kita baca dalam Injil bahwa Yesus bersukur kepada Allah Bapa-Nya karena misteri kerajaan justru tidak ditampakkan melalui orang-orang terhormat, tetapi melalui orang kecil dan sederhana, merupakan sebuah pesan sukacita kepada kita seandainya kita berani untuk berbuat sesuatu kepada kaum miskin, lemah dan difabel. Bagaimana aplikasinya di wilayah Gereja kita?

Paroki melalui seksi Pemberdayaan Sosial Ekonomi telah menyantuni biaya pendidikan kepada ratusan warganya yang mengalami kesulitan untuk menempuh pendidikan dasar dan menengah, tentu saja sesuai dengan kemampuan paroki. Santunan itu juga merupakan sebagian dari kolekte yang dihimpun dari umat setiap perayaan ekaristi dirayakan.  Setiap kepanitiaan Natal, Paskah selalu membuat program  memberikan bingkisan kebutuhan pokok sehari-hari kepada mereka yang berhak menerimanya atau kegiatan sosial kemasyarakatan yang memberdayakan kaum lemah dan miskin.

Pada suatu kesempatan perayaan pentahbisan imam di Vatikan, Paus selaku Uskup pentahbis dalam homilinya mengajak para imam, terutama imam baru untuk tanpa merasa terpaksa memberikan perhatian kepada orang sakit, miskin dan terlantar: “Temukanlah Kristus pada jiwa orang-orang sakit, miskin dan terlantar melalui kehadiranmu” ungkap beliau. Perhatian melalui kehadiran/ pelayanan para imam jauh lebih nyata dibandingkan dengan homili-homili yang teoretis, instruksional belaka yang banyak menjadi kebiasaan para imam, kata Bapa Paus.

Sebagai Gereja, umat beriman apa yang bisa kita lakukan? Dasar utama dari perhatian khusus kepada kaum miskin, lemah dan difabel adalah sebuah pewartaan Injil yang hidup. Sebagai pribadi / keluarga kita bisa melakukannya dengan menjadi orang tua angkat membantu pendidikan anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Sebagai lembaga pendidikan rasanya juga perlu menyediakan ‘bangku Yesus’ di kelas, artinya menerima murid-murid yang secara intelektual mampu bersekolah tapi apa daya kemampuan ekonomi membuat mereka tidak bisa bersekolah. Sebagai wilayah / lingkungan gereja paroki / stasi perlu membuat data yang akurat kekuatan ekonomi umatnya, berusaha untuk memberikan bantuan nyata, sekurang-kurangnya menyampaikan kepada paroki. 
    
Sebagai pengurus lingkungan, wilayah, stasi memang tidak harus hadir secara rutin pada kaum miskin, lemah dan difabel, mengingat beban dan banyaknya tugas yang harus dikerjakan berkaitan dengan keberlangsungan hidup keluarga. Cara perhatian bisa dilakukan dengan membuat data yang akurat warga yang miskin (pra-sejahtera istilah di Paroki MBSB), warga yang lemah karena sakit permanen ataupun secara fisik sehat tetapi tersingkirkan oleh masyarakat karena minoritasnya, kesendiriannya (janda, duda atau single parent yang mengalami keterbatasan segala bidang kehidupan). Lingkungan juga sudah saatnya untuk memiliki data tentang warganya yang difabel atau berkebutuhan khusus. Rata-rata orang tua mereka menyembunyikannya karena tidak mau repot dihadapan umum, malu dilihat orang lain, atau barangkali karena perilaku orang yang mengalami difabel ini seringkali mengganggu kehadirannya dimuka umum. Berdasar data yang akurat ini, paroki akhirnya mempunyai data yang benar pula umat yang miskin, lemah dan difabel dalam rangka membuat sebuah pelaksanaan pastoral. Tuhan menyertai kita semua.

Comments

Popular Posts