APAKAH KITA MASIH PERLU MENERIMA SAKRAMEN TOBAT?

Oleh: C. B. Mujianto
(Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Paroki MBSB Edisi Maret 2017)


Pengantar


Saat dimana perayaan hari besar Paskah dan Natal akan tiba, umat disediakan waktu khusus oleh Gereja untuk menerimakan sakramen pengakuan dosa/tobat. Di sini umat tampak luar biasa menyambutnya, mereka mau berderet untuk mengantri, menunggu urut giliran  masuk di ruang kamar pengakuan dosa. Sekalipun luar biasa, namun masih ada lebih banyak umat yang tidak mau melakukannya, dengan berbagai alasan, bahkan       tanpa merasa bersalah ada umat yang bertahun-tahun tidak pernah lagi melakukan pengakuan dosa. Seandainya banyak umat yang melakukannya, pasti antrian akan semakin banyak dan panjang, seperti saat-saat antri menerima hosti suci misa hari Sabtu Minggu di gereja kita, waktu yang disediakan, pasti tidak cukup!

Mengapa kita perlu dan wajib menerima sakramen pengakuan  dosa? Mengapa sebagian besar umat kita tidak menganggap penting menerimakan sakramen satu ini, dan mengapa kita mau bersusah payah untuk setia mengantri di depan ruang pengakuan dosa? Saya, mau menguraikan tema  dalam tulisan ini dari perspektif lain, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Mengantri

Suatu saat ketika, saya juga ikut mengantri untuk menerimakan sakramen tobat di gereja kita, saya tertarik dengan perilaku Ibu muda di depan saya, ia justru memainkan HP. Semula saya ingin menegurnya, dalam benak pikiran saya ...”Ibu muda satu ini tidak beres, malah main HP justru di saat-saat hening, suci dan perlu  kesiapan batin yang sungguh!” Tapi, niat menegur saya urungkan! Saya ingin tahu, apa yang sebenarnya dia lihat dan mainkan di HPnya. Setelah saya amati dan lihat…oh...ternyata Ibu ini sedang membaca bacaan rohani harian. Beruntung, saya tidak menegurnya!

Mengantri, menunggu; hal yang biasa!! Tetapi mengantri saat pengakuan dosa, sesuatu yang lain. Urutan tidak berdasarkan oleh karena yang tua duluan, lalu yang muda! Tidak pula, yang muda mendahulukan yang tua, seperti layaknya naik bus; yang muda mengalah, yang tua dipersilahkan duluan. Mengantri saat pengakuan dosa, siapa yang datang duluan, dialah giliran untuk  melakukan  pengakuan  dosa. Tata  krama  kita  tidaklah salah,  kalau  lalu yang  muda  tidak mendahulukan yang tua. Hal ini  mau  ditegaskan, bahwa pengakuan dosa menjadi suatu kehendak pribadi dan bebas, serta urusan bersangkut paut dengan yang sangat pribadi antara saya dengan Tuhan.

Maka, tatakrama untuk saling tegur sapa saat mengantri pengakuan dosa antara satu dengan yang lain, juga tidak menjadi suatu kewajiban. Bahkan, tidak salah, kalau saya dengan anda tidak saling menegur! Hal ini terjadi, karena kita sedang akan berbicara kepada Tuhan, akan mengungkapkan isi hati tentang dosa dan kesalahan yang kita lakukan serta janji saya dan dan anda untuk berpaling dan setia padaNya!” Oleh karenanya, saya pantas untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya.

Yang dipikirkan dan dilakukan, ketika menunggu saat giliran pengakuan dosa, juga harusnya tidak sama dengan ketika kita menunggu giliran mengantri di bank, mengantri untuk mendapatkan tiket, atau pembayaran lainnya. Sebelum pengakuan dosa umat dituntun dulu dengan ibadat tobat. Dengan ibadat tobat, umat sebenarnya dibantu mempersiapkan diri dengan baik agar makna pertobatan dapat kita capai. Bukan lalu, malah menghindarinya, datang saat antrian sudah berjalan, hanya memilih antrian mana yang sedikit, memilih Romo pengakuan dan saat mengantri justru tidak menyiapkan apa-apa!

Lalu, bolehkah main Hp saat menunggu antrian, ketika akan menyambut sakramen pengakuan dosa? Boleh atau tidak boleh, ya itu,. sangat bergantung kepada keputusan bebas dari saya dan anda; apakah yang sedang kita lakukan misalnya dengan membuka HP itu adalah dalam rangka menyiapkan diri untuk menyambut tanda keselamatan yang akan kita terima melalui sakramen tobat? Atau justru malah akan mengganggu ketenangan batin dari antara kita yang sedang mengantri!  Saya, lagi-lagi  sangat  tertarik  dengan  seorang  muda  belasan tahun, yang ada di sebelah kanan saya, ketika sedang mengantri bersama saya, yang bersangkutan komat kamit mulutnya; Komat-komat sambil menghitung, menggunakan jarinya. Saya yakini, ia sedang doa roasario, ia berdoa Rosario dengan menggunakan tangannya. Ini tentu menjadi contoh perilaku yang baik, sebagai bagian menyiapkan diri untuk menyambut tanda cinta Tuhan yang akan ia terimakan melalui Sakramen Pengakuan dosa/tobat. Contoh baik yang lain yang juga saya lihat, sambil menunggu antrian, ada yang menuliskan sesuatu di kertas, dan saya yakini, yang ditulis adalah dosa-dosanya. Ini, juga merupakan contoh baik sebagai bagian dari menyiapkan diri; meneliti diri, mengingat-ingat salah dan dosa-dosa yang kita lakukan.

Meneliti dan mengingat-ingat kesalahan dan dosa

Diantara kita yang tidak mau menerima sakramen pengkuan dosa adalah karena tidak tahu lagi bagaimana tata caranya, anehnya diantara kita juga malu untuk bertanya, bagaimana caranya. Pada hal kalau kita masuk ke tempat pengakuan dosa tidak tahu dan bahkan bingung apa yang akan dilakukan dan diucapkan, yakinlah Pastor yang ada didalam ruang pengakuan akan memberitahukan kepada kita, kuncinya adalah terus terang; “Tolong, bantu saya, Romo, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.” Lalu, tenang saja, anda tidak perlu khawatir, Romo kita pasti akan menuntunnya dan bahkan kalau salah doa kitapun juga akan dibantu dan dibetulkannya.

Dalam hal menerimakan sakramen pengakuan dosa, salah satu hal yang paling sulit adalah menemukan salah dan dosa saya pada Tuhan itu apa!! Semakin kita jarang dan tidak pernah melakukan instropeksi dan penelitian diri, semakin kita tumpul dan tidak mampu menemukan apa salah saya, apa dosa saya. Pisau yang biasa dipakai akan menjadi tidak tajam dan tumpul kalau tidak pernah diasah.

Menerimakan  sakareman  pengakuan  dosa  itu  bagian dari suatu cara mengasah ketajaman mata batin kita, salah dan dosa kita. Perlahan tanyakan kepada diri sendiri apa yang telah saya dan anda lakukan dengan penuh kesadaran dan dengan penuh kesengajaan, yang bertentangan dan melanggar perintah-perintah Allah. Kalau susah meneliti kesalahan dan dosa, kita dapat memulai dan berpedoman pada 10 perintah Allah; Misalnya perintah Allah yang pertama; “Berbaktilah kepada  Tuhan Allahmu!” Pertanyaan refleksi dan penelitian batin kita misalnya; Apakah aku telah berdoa secara teratur? Apakah aku dengan sungguh-sungguh mengikuti perayaan ekaristi? Apakah aku hanya mempercayakan hidupku pada Tuhan atau aku justru percaya kepada hal-hal yang tahayul?

Atau Perintah Allah Kedua “Menyebut nama Tuhan tidak dengan hormat”; misalnya dengan meneliti batin; Pernahkah aku menyebut nama Allah dengan tidak hormat? Apakah aku pernah menggunakan nama Allah dengan nada menghina; “ternyata Tuhan tidak pernah membantu saya”, atau mencandai Tuhan, dan bahkan marah pada Tuhan dengan cara-cara lain yang tidak hormat? Dan seterusnya.

Atau perintah Perintah Allah ketiga; Kuduskanlah hari Tuhan, dengan sederet refleksi; Apakah aku pernah tidak menghadiri misa pada hari-hari Minggu atau hari-hari suci wajib lainnya? Apakah aku datang misa selalu tepat waktu dan menyiapkan dengan baik? Apakah aku selalu bersemangat mengikuti misa kudus atau setengah-setengah, hadir hanya memenuhi wajib misa hari Sabtu-Minggu? Apakah aku saat misa lebih asyik membuka HP dari pada membuka Kitab Suci? Apakah aku hanya sebagai penonton saja saat mengikuti Misa Kudus? Dan seterusnya.

Atau perintah Allah yang keempat “Hormatilah ibu Bapakmu; untuk orang tua dapat merefleksikan dengan pertanyaan-pertanyaan; seperti ini Apakah aku pernah lalai untuk mengajari anak-anakku berdoa, mengantar mereka ke gereja, dan memberikan mereka pendidikan Kristiani? Apakah aku dengan sungguh-sungguh telah memberikan teladan yang tidak baik kepada mereka? Apakah aku pernah lalai menjaga anak-anakku: di dalam pergaulan mereka, film dan acara televisi yang mereka tonton atau dalam HP nya? Apakah aku sudah memastikan bahwa anak-anakku telah melakukan Pengakuan Dosa? Apakah aku telah dengan sungguh mendampingi anak-anakku dengan penuh kesabaran? Dan seterusnya…

Aku mau bertobat

Disamping kita perlu memiliki kemampuan meneliti dosa dan kesalahan kita, yang paling utama adalah kita harus berubah dan bertobat. Ini memang tidak mudah! Justru inilah kata kunci kita sebagai orang beriman. Beriman selalu mengandaikan ada perubahan dan perubahan itu mengarah pada pertobatan. Sakramen pertobatan membawa kita untuk bener-bener melakukan penyesalan dan melakukan perubahan yang menjadi kesalahan dan dosa kita, baik melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Menyesali dosa adalah lebih penting daripada mengingat dosa-dosa kita. Sekalipun susah, yang pertama kali harus dibangun adalah kita menyadari diri, kita ini manusia yang lemah, bisa jadi kita selalu mengulangi kesalahan dan dosa yang sama, tapi tidak mengapa!! Pasti Tuhan akan membantu kita, kalau kita memang sungguh-sungguh ingin berubah. Kita patut bersyukur, memiliki Bapa yang memiliki Kerahiman, Bapa Yang Penuh Kasih, yang melihat kemalangan kita dan tidak langsung menghukum kita, tetapi sebaliknya Dia menunggu kita untuk kembali kepada-Nya. Dia menerima, memeluk dan mencium kita secara terus menerus, dan melupakan segala kedurhakaan yang kita lakukan. Dia adalah Bapa Surgawi yang sama, yang mengirimkan Putra-Nya yang Tunggal, Yesus, untuk menderita sengasara dan wafat untuk menebus dosa-dosa kita.

Agar supaya yakin bahwa penyesalan saya dan anda adalah benar dan sungguh-sungguh, bertekatlah penuh di dalam hati bahwa kita lebih memilih untuk berbuat baik daripada berbuat dosa. Kita tidak perlu berjanji untuk tidak akan jatuh lagi ke dalam dosa. Kita tahu kelemahan dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa sangatlah besar. Dengan penuh rasa percaya kepada Allah, bertekatlah sekarang untuk sungguh-sungguh mencoba di masa depan untuk menghindari dosa, melakukan yang baik dan terbaik. Masa sih dengan usia bertambah, kita tidak menjadi semakin dewasa?

Inilah pentingnya menerimakan sakramen pengakuan dosa/tobat. Sakramen selalu menandakan kehadiran Allah. Kehadiran Allah yang telah disediakan oleh Tuhan melalui GerejaNya, pantaslah anda dan saya menyambutnya, mengikutinya!!

Penutup

Jika anda dan saya masih Katolik, maka kita memiliki kewajiban untuk menerimakan Sakramen pengakuan dosa. Bukan hanya kewajiban tapi lebih-lebih kita memerlukannya. Sakramen pengakuan dosa bukan hanya merupakan pelengkap hidup beriman. Sakramen Tobat menjadi salah satu senjata pamungkas kita untuk dapat hidup beriman dengan lebih baik. Mari, kita siapkan dan sambut sakramen Tobat.

Comments

Popular Posts