BINTANG BERSINAR, BERSERI DAN BERBAGI

Oleh: RD. Yohanes Suradi
(Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Paroki MBSB Edisi Januari 2017)

 
Ada dua pelajaran berharga yang saya catat disekitar Hari Raya Natal ini menyangkut persoalan orang muda katolik (OMK) di Keuskupan kita. Pertama, beberapa hari sebelum perayaan Natal di sebuah paroki di gerebek oleh polisi karena ada pegawai gereja yang sedang menggunakan narkoba. Dengan berat hati meskipun sedang banyak pekerjaan harus mendekam ditahanan hingga proses pengadilan selesai. Kedua, bertepatan dengan Hari Raya Natal ada seorang muda katolik mengirim pesan di sebuah komunitas masyarakat peristiwa natal dengan mengutip ayat-ayat suci Al’Quran sehingga membuat sebagian warga masyarakat muslim tersinggung. Memanggil yang bersangkutan disaksikan oleh muspika setempat. Setelah melalui pembicaraan yang cukup menegangkan, terjadi kesepakatan bahwa mereka memaafkan asal membuat pernyataan mengaku bersalah dan tidak tinggal didaerah tersebut. Dua pelajaran berharga di saat kita merayakan Epifani ini, bahwa Tuhan selalu hadir dalam proses penyelesaian persoalan dan agar menjadi kewaspadaan kita terhadap penyakit masyarakat serta penggunaan media social sebagai sarana komunikasi.

Hari Raya Penampakan Tuhan disebut pula pesta tiga raja atau Epifani yang biasanya dirayakan oleh gereja katolik pada tanggal 6 Januari atau hari minggu setelah pesta Keluarga Kudus Nazaret (Yesus, Maria dan Yosef). Beberapa Negara yang mayoritas penduduknya beragama katolik bahkan merayakan pesta tiga raja ini dengan sangat meriah. Di Spanyol, misalnya, perayaan penampakan Tuhan ini dirayakan dengan memvisualisasikan tiga raja seperti ondel-ondel (betawi), penthul (reog jawa) atau badut yang dihias sedemikian rupa berarak keliling kota.

Epifani atau pesta tiga raja tahun ini bertepatandengan Hari Anak Misioner Sedunia ke-174. Tema Hari Anak Misioner tahun ini adalah “Bintang Bersinar, Berseri dan Berbagi”, mengajak bahwa anak-anak sebagai bintang missioner untuk berjalan bersama para Majus mengikuti bimbingan Tuhan. Diharapkan anak-anak dan remaja bersaksi tentang cintakasihTuhan melalui doa, derma dan kurban. Berbagi juga berarti membiasakan anak-anak dan remaja kita untuk keluar dari egoisme, keterpusatan pada diri sendiri dengan berbagai fasilitas, lalu menjumpai orang lain yang membutuhkan.

Berarak keliling kota, keluar untuk menjumpai orang yang membutuhkan merupakan hal yang serupa, yakni berani meninggalkan zona nyaman yang menjadi kelekatan sehari-hari, kemudian membuka mata dan melihat sekeliling bahwa ternyata banyak orang yang memiliki nasib hidup belum se-nyaman kita. Sebagai orang tua, sebagaimana pesan Bapa Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur pada pesta Keluarga Kudus awal tahun 2017, bersuka cita karena dicintai Tuhan, pasangan dan sesame harus dibagikan kepada anak-anak dan remaja kita dengan kepedulian kepada sesame kita, terutama yang belum mengalami kebahagiaan seperti anak-anak kita.

Para majus / raja dari timur keluar dari negerinya ke Yerusalem untuk mencari Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka mengikuti petunjuk bintang yang berjalan di depan mereka, sampai terpikir oleh mereka untuk mampir ke Herodes, penguasa saat itu. Ketika sampai pada Raja Herodes, mereka diajak untuk bermufakat membunuh Raja yang baru dilahirkan itu Ketika mereka tidak sepakat dengan kejahatan, bintang itu tampak kembali hingga membawa mereka ke sebuah tempat dimana bayi Yesu sterbaring. Mereka masuk, dikisahkan dalam Injil bahwa mereka bersukacita bertemu dengan Yesus mereka membuka harta benda mereka, mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Karena diperingatkan dalam mimpi bahwa jangan kembali ke Herodes, mereka pulang ke Negara mereka melalui jalan lain.

Merupakan sebuah gambaran bagi kita bahwa setiap niat baik itu selalu dikitari dengan godaan untuk tidak melanjutkan perbuatan baik, selalu ada jerat-jerat yang ingin mengalihkan perhatian kita. Pada saat seperti itu Tuhan dilupakan, tidak disebut-sebut dalam perjalanan maka tidak tampak. Tetapi ketika kita  sadar bahwa kita masuk dalam godaan maka Tuhan tampak kembali. Belajar dari para majus bahwa mereka sadars ebelum mereka diajak untuk melakukan permufakatan jahat, mereka kembali kejalan yang benar, Tuhan hadir dan mereka bersukacita. Bahkan sebagai ungkapan syukur atas sukacita menemukan kembali Tuhan-nya, mereka mempersembahkan bukan sekedar persembahan biasa melainkan persembahan yang dianggapnya paling berharga dalam hidup mereka.

Kembali pada kisah diawal tulisan ini bahwa narkotika dan obat-obat terlaranga dalah bahaya yang mengancam hidup kita terutama generasi muda, bahkan Negara sudah menabuh genderang agar seluruh warga masyarakat saling bahu membahu membantu alat Negara untuk memerangi ancaman berbahaya untuk masa depan kita. Barangkali salah seorang anak muda disebuah paroki tadi hanyalah salah satu dari sekian banyak anak-anak muda kita yang sudah terjerumus, terancam kejurang kesengsaraan, terbunuh masa depan mereka Karena narkotik dan obat-obat terlarang ini. Mari kita waspada, jangan sampai tergoda, apalagi bersentuhan dengan barang-barang terlarang tersebut.Aparat kepolisian akan bergerak kemanapun barang itu beredar / dikonsumsi dan tidak pandang bulu siapa pengedar atau pemakainya, bahkan di sekitar gereja sekalipun ketika disinyalir bahwa ditempat suci itu ada signal-signal beredarnya barang terlarang tersebut. Para orang tua hendaknya juga selalu waspada terhadap putra-putrinya akan bahaya tersebut.

Kata-kata ‘penistaan agama’ belakangan ini sedang ramai dibicarakan selepas kasus pidato Gubernur DKI ( petahana ) Basuki Tjahaya Purnama di Kepulauan Seribu beberapa waktu yang lalu yang diunggah dalam media social sehingga menggegerkan seluruh masyarakat bangsa ini. Akibatnya sekarang harus berurusan dengan hukum. Entah bersalah atau tidak, adil atau tidak kita serahkan kepada hokum dan pengadilan. Diskusi entah langsung maupun melalui media social sangat mengasyikkan untuk melibatkan diri didalamnya. Komentar yang menyinggung orang lain / agama lain begitu mudah untuk disimpulkan sebagai sebuah penistaan yang akan mengundang reaksi masa yang lebih luas. Mungkin baik juga kalau kita waspada, berhati-hati, tahu situasi dan kondisi agar tidak mudah tergoda dalam perangkap penistaan ini.

Semoga anak-anak missioner, generasi muda kita selalu menyadari akan pesan Paus Fransiskus pada hari Anak Misioner Sedunia ini: “Anda akan menemukan hidup dengan memberikan hidup, menemukan harapan dengan memberikan harapan, dan menemukan cinta dengan memberikan cinta”, dengan cara berani keluar dari zona nyaman dari segala fasilitas kenyamanan mereka, menjumpai orang lain dengan segala kebutuhannya.

Comments

Popular Posts