KELUARGA KATOLIK SEBAGAI SUKACITA INJIL

Oleh RD. Yohanes Suradi
(Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Paroki MBSB Edisi November 2015)

Minggu, 18 Oktober 2015 Paus Fransiskus melakukan ‘canonisasi’, pemberian gelar suci kepada  pasangan suami istri dari Perancis Louis dan Zelie Martin dalam sebuah upacara resmi di lapangan Santo Petrus, Vatikan. Pasangan suami-istri dengan nama asli Louis Martin dan Marie-Azelie Guerin mempunyai sembilan anak, salah satu diantaranya adalah Santa Theresia dari Lisieux yang sangat terkenal dengan sebutan “The Little Flower”, meninggal dalam usia 24 tahun pada tahun 1897. Empat dari anak-anak pasangan pasutri tersebut meninggal saat mereka masih bayi, sedangkan lima anak lainnya yang hidup, semua perempuan dan kelima-limanya menjadi biarawati.

Pasangan Louis dan Zelie Martin melaksanakan ibadat keluarga setiap hari, menciptakan lingkungan iman dan kasih setiap hari dalam keluarga, serta membina seluruh anak-anaknya kearah panggilan.Disamping itu pasutri ini mengalami keajaiban-keajaiban yang membawanya ke gelar beato pada tahun 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II.Louis Martin yang sejak kecil bercita-cita menjadi biarawan tetapi ditolak karena kemampuan berbahasa Latin nya buruk, bertemu dengan Zelie yang membawanya pada perkawinan pada tahun 1858. Keajaiban / mujizat yang terjadi dikisahkan oleh Bapa Paus Fransiskus demikian, ada seorang bayi Spanyol yang lahir prematur bernama Carmen, mengalami pendarahan otak, orangtuanya  berdoa kepada Tuhan dengan memohon bantuan pasutri Louis-Zelie, anak itu sembuh. Carmen sekarang sudah berumur 7 tahun. Keajaiban yang lain dirasakan oleh seorang anak laki-laki Italia yang sekarang berumur 12 tahun, yang juga sembuh dari penyakitnya karena permohonan melalui pasangan suami istri ini. Karena sebagian dari keajaiban / mujizat ini, disamping mujizat yang lain, mendorong Bapa Paus untuk mengangkat pasangan ini menjadi Santo dalam Gereja Katolik.

Entah kisah ini diceritakan atau tidak dalam sebuah peristiwa besar  Gereja Katolik Indonesia, , yakni Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ( SAGKI ) tanggal 2 – 6  November 2015  bertempat di Via Renata, Cimacan, Bogor. Uskup-Uskup se-Indonesia, wakil-wakil dari Lembaga Hidup Bakti, wakil dari kelompok-kelompok kategorial, organisasi Katolik serta wakil-wakil umat Katolik hadir dalam sidang ini. Kaitan dengan kisah diatas adalah bahwa tema SAGKI tahun ini adalah “Keluarga Katolik: Sukacita Injil”. Rasanya keluarga pasutri Louis dan Zelie itu menjadi salah satu keluarga yang hidunya merupakan Injil yang hidup dan dirasakan secara nyata dalam Gereja Katolik.

Fokus perhatian SAGKI 2015 ini adalah agar keluarga katolik mengalami sukacita Injil dengan semakin menghayati jati diri, spiritualitas dan panggilan serta perutusannya dalam gereja dan masyarakat yang diharapkan memancarkan sukacita Injil. Hal ini sejalan dengan pesan Paus Fransiskus dalam Sinode Luar Biasapara Uskup tentang keluarga tahun lalu, bahwa Tuhan menyentuh pintu setiap keluarga, keluarga memiliki kartu identitas Ilahi, keluarga harus memperhatikan anak-anak dan kakek nenek, kekudusan dalam keluarga selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan sederhana, selalu membuka hati untuk mujizat kasih dalam keluarga, dan semoga setiap keluarga senantiasa menjadi para nabi sukacita Injil.

Dalam sebuah acara malam sosialisasi SAGKI 2015, Mgr. Ignatius Suharyo, Ketua Presidium Konferensi Para Uskup Indonesia menyampaikan tujuan dari permenungan tema tentang keluarga dalam SAGKI tahun ini, yakni pertama, keluarga Katolik semakin menghayati jatidiri, identitas, spiritualitas, panggilan dan perutusannya di dalam Gereja dan ditengah masyarakat. Kedua, keluarga Katolik semakin menyadari tantangan-tantangan konkrit yang dialami dan dihadapi keluarga dewasa ini. Ketiga, keluarga Katolik semakin missioner ditengah-tengah masyarakat.

Dalam kesempatan sosialisasi ini juga dihadirkan keluarga/pasutri dengan segala macam tantangan dan keprihatinan dalam hidup mereka, entah antar anggota keluarga sendiri maupun kehadiran mereka ditengah-tengah gereja maupun masyarakat. Beberapa hal yang mereka ungkapkan sebagai sebuah masukan untuk direfleksikan dalam SAGKI agar ditindaklanjuti sebagai prioritas program pastoral Gereja. Contoh keprihatinan yang terjadi dalam keluraga misalnya soal komunikasi antar anggota keluarga, kendati berkumpul dalam satu meja makan, tetapi karena pekerjaan atau karena kebiasaan masing-masing sibuk dengan alat komunikasinya sehingga orang yang dekat bahkan di hadapannya menjadi sangat jauh, sementara orang yang jauh menjadi dekat dengan alat-alat komunikasi yang dipegangnya.

Keprihatinan juga dirasakan dalam hal pendidikan iman untuk anak-anak dalam keluarga, terutama di sekolah.Sekolah-sekolah katolik disinyalir oleh keluarga-keluarga katolik kurang memberikan perhatian soal iman anak-anak didik dibandingkan dengan sekolah-sekolah Kristen atau swasta lainnya, bahkan beberapa sekolah negeri memberikan program pelajaran agama yang lebih jelas. Harus disadari oleh sekolah-sekolah katolik bahwa tingkat kepercayaan keluarga-keluarga katolik terhadap sekolah katolik menurun, banyak umat katolik yang lebih memilih sekolah swasta non Katolik atau bahkan ke sekolah negeri. Apakah sekolah katolik masih mampu untuk menjadi kehadiran gereja ditengah masyarakat?

Keprihatinan lain seperti misalnya perhatian gereja maupun sekolah-sekolah Katolik terhadap keluarga-keluarga miskin, single parent, atau mereka-mereka yang membutuhkan perhatian tersendiri. Mereka-mereka ini juga manusia yang memiliki kesamaan dengan yang lain di hadapan Tuhan. Mereka ini ada bahkan mempunyai hak untuk dilibatkan dalam kancah pelayanan/hidup menggereja. Bahkan Yesus menjadikan orang-orang seperti inilah yang mendapatkan prioritas  pelayanan, bahkan ciri khas kekatolikan sebuah lemaga katolik.

Keprihatian yang juga dirasakan oleh keluarga-keluarga katolik adalah kekhawatiran akan bahaya kawin campur anak-anak mereka masa mendatang. Sarana-sarana perkenalan melalui alat-alat komunikasi maupun pergaulan sehari-hari sangat membuka ruang seluas-luasnya anak-anak katolik berkenalan secara mendalam dengan anak-anak non katolik, bahkan banyak diantara mereka yang berlanjut pada rencana pernikahan. Dalam hal ini sepertinya Gereja kurang begitu memberikan perhatian terhadap ancaman bahaya tersembunyi tersebut. Apakah Gereja sudah memberikan terobosan-terobosan akan penanggulangan bahaya kawin campur, sekalipun Gereja mengijinkan.

Barangkali akar persoalan diatas juga dikarenakan Gereja kurang menanamkan nilai-nilai Kitab Suci sejak dini kepada anak-anak sebagai sebuah pembiasaan. Kalau anak-anak sangat menyukai film-film animasi dalam bentuk kartun, mengapa gereja tidak menciptakan film-film kartun tentang Kitab Suci ?Penghafalan melalui tayangan-tayangan yang disuguhkan seperti kisah atau tokoh-tokoh film kartun lebih mudah dihafal daripada membaca Kitab Suci. Mungkinkah?

Menarik memperhatikan tema SAGKI dalam konteks Adven, masa persiapan perayaan Natal tahun ini. Masa adven akan dimulai empat minggu sebelum Hari Raya Natal, yakni mulai tanggal 29 November 2015. Selama empat minggu umat katolik akan diajak untuk mempersiapkan diri sehingga baik secara jasmani maupun terutama rohani dapat merayakan Natal, Hari Raya Kelahiran Yesus dengan penuh sukacita. Aspek jasmani merupakan wujud nyata pertobatan rohani, yang juga menjadi keprihatinan yang direnungkan dalam SAGKI. Wujud nyata tadi dapat lakukan dengan solidaritas kepada mereka yang miskin, terlantar, single parent, lansia yang yang membutuhkan, yang biasanya menjadi perhatian oleh gereja dalam bentuk kunjungan/ bingkisan Natal. Solidaritas ini juga dapat dilakukan oleh setiap pribadi dengan kunjungan atau membantu orang disekitar kita. Wujud nyata solidaitas ini sebenarnya merupakan pemaknaan natal, yakni solidaritas Allah terhadap kita manusia yang berdosa ini. Solidaritas Allah ini mewujud dalam penjelmaanNya kedalam manusia, Yesus Kristus.

Rasanya baik juga kalau Masa Adven ini juga menjadi wujud pertobatan keluarga dengan sekurang-kurangnya merujuk pada keprihatinan-keprihatinan keluarga SAGKI 2015 di atas. Bagaimana seluruh anggota keluarga dalam sebuah komunitas keluarga memberikan perhatian pada komunikasi yang selama ini kurang terbangun karena kesibukan-kesibukan masing-masing atau karena hobi sehingga jari-jari tangan, mulut, telinga dan hati disibukkan oleh alat-alat komunikasi yang kita miliki.Sangat masuk akal kalau orang yang terdekat, didepan kita menjadi jauh, sedangkan orang yang jauh menjadi sangat dekat karena alat komunikasi tersebut. Mungkin tidak kalau pada saat makan bersama, rekreasi keluarga, atau saat ngobrol antar anggota keluarga, tanpa HP, gadget, tablet di tangan dan head set di telinga anak-anakkita?

Lembaga-lembaga pendidikan katolik kembali meciptakan bentuk-bentuk pendidikan iman yang lebih menarik daripada sekolah-sekolah non Katolik.Jati diri, spiritualitas dan panggilan serta perutusan sekolah-sekolah katolik adalah pintu gerbang gereja ditengah-tengah masyarakat. Tugas berat ini tidak mungkin akan terwujud tanpa menciptakan bentuk-bentuk pendidikan yang menarik, memberikan perhatian-perhatian yang lebih terhadap tenaga-tenaga pendidik maupun kependidikan, anak didik maupun orang tua sebagai pilar-pilar utama dalam dunia pendidikan. Dengan panggilan dan perutusan lembaga pendidikan sebagai pintu gerbang gereja di tengah masyarakat, maka terjadilah kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang pewartaan kabar gembira maupun promosi panggilan untuk menjadi imam, biarawan maupun biarawati. Oleh karena itu perlulah kehadiran dan partisipasi para insan pendidik dan kependidikan di Paroki, Stasi, wilayah dan lingkungan. Inilah wujud nyata keterlibatan yang saling menguntungkan.

Anak-anak harus mempunyai kepastian dimasa mendatang, terutama dalam hal iman yang sudah diakuinya sejak menerima babtisan. Iman itu harus hidup, berkembang sehingga kendati tantangan-tantangan jaman mengancam, karena iman yang dapat dibanggakan, mereka tetap tahan uji. Sebagai wujud pertobatan nyata, Gereja harus mencari terobosan-terobosan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, sehingga bentuk-bentuk pewartaan dalam dunia anak diminati dan diikuti oleh sebanyak mungkin anak-anak kita. Barangkali perlu dipikirkan bentuk-bentuk animasi Kitab Suci sebagaimana film-film kartun masih mendominasi minat anak-anak hingga saat ini.

Akhirnya, kehadiran keluarga-keluarga Katolik ditengah masyarakat, apakah benar merupakan cermin sukacita Injil yang diharapkan oleh Gereja? Suatu kesempatan yang sangat baik kalau dalam masa adven ini setiap keluarga Katolik merefleksikan tentang kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu setiap keluarga perlu merenungkan kembali kehadiran  Sang Sukacita, yakni Yesus Kristus yang tergambar dalam pembuatan Kandang Natal bagi setiap keluarga. Harapan gereja adalah agar keluarga-keluarga Katolik hadir di tengah masyarakat sebagai Gereja mini, yang hadir sebagai saksi-saksi Injil, menjadi garam, ragi dan terang dalam masyarakat. Selamat memasuki Masa Adven. Tuhan memberkati.

Comments

Popular Posts